8 Desember 07
Sekitar 3 tahun yang lalu saya membaca novel “Ayat-ayat cinta” tapi kekagumanku dengan ceritanya belum hilang. Bahkah, bagiku itu novel percintaan yang paling keren yang pernah kubaca. Ternyata, novel best seller yang ditulis oleh Habiburrahman El-shirazy ini akhirnya difilmkan juga. Sebenarnya saya merasa filmnya tidak akan lebih baik daripada novelnya palagi kalau dibuat oleh sineas Indonesia yang biasa membuat film-film drama biasa yaitu Hanung Bramantyo. Saya sedikit takut kalau filmnya bisa merusak pamor novelnya hehehe. OMG, saya kok jadi negatif gini ditambah lagi waktu nonton trailernya (lihat disini) kok seperti film percintaan yang biasa saja dengan nuansa islamnya kurang tergambarkan. Production housenya pun MD Entertainment hehehe kok kesannya sinetron banget *Saya emang sedang terkena sindrom kecewa ma tontonan orang indonesia*.
Ini bukan novel pertama dari penulis Indonesia yang telah dibuatkan versi layar kacanya, hal yang sama juga dilakukan untuk novel ‘cintapucino’. Namun, yang menjadi keunikan dari film ‘Ayat-ayat cinta’ nantinya karena merupakan film Indonesia pertama yang diangkat dari novel islami dengan nuansa yang harusnya kental banget dengan islam (ini menurutku setelah membaca novelnya). Sebenarnya ada juga sih film percintaan bernuansa islam yang pernah ada seperti kiamat sudah dekat. Yah, kita liat saja sih akan seperti apa nanti penggambaran isi novelnya. Kalau masalah casting alias pemain sih saya tidak punya komentar karena menurutku untuk pemain film indonesia, beberapa pemain-pemain yang terpilih secara fisik bisa dimirip2kan dengan tokoh-tokoh di ayat-ayat cinta.
Hooo, bisalah film ini jadi teman libur akhir tahun hehehe…
22 Desember 07
Aih terdapat sedikit kekecewaan bagiku karena lebaran kemarin saya tidak jadi menonton film Ayat-ayat cinta karena ada penundaan tayang. Dapat informasi dari pegawai salah satu studio 21 di bandung mengatakan bahwa dari pihak production menunda secara sepihak dan tidak menjelaskan alasan kemunduran tersebut. Rasa penasaranku dua hari yang lalu terbayar ketika saya tidak sengaja melihat tulisan di wordpress ini. seketika kubuka blog mas hanung (ini dan itu) yang menjelaskan tentang kemunduran tersebut. Berikut saya meng-copy beberapa kalimat dari tulisannya. Yah setidaknya telah mengubah sedikit pandanganku tentangnya. Apapun itu, yah bagus atau tidaknya film ini nantinya menggambarkan tentang isi buku. Sesungguhnya ketika kita mengikuti Islam maka akan lebih indah dari yang tertulis di buku dan yang akan digambarkan di film.
Aku sangat hati-hati sekali melakukan ini agar apa yang tertulis dalam novel dengan indah pula tersampaikan lewat gambar. Sebuah film yang lembut, yang indah, yang suci tergambar di depan mataku dan aku yakin sekali bisa mewujudkannya.
Impianku mewujudkan keindahan dan kedalaman Islam terbentur oleh kenyataan sebaliknya: Ringan, Riang, Hedonistik dan Pop. Apalagi ketika producer tiba-tiba berubah pikiran melihat kenyataan penonton Film Indonesia banyak di dominasi anak-anak muda yang pop, ringan dan tidak menyukai hal-hal bersifat perenungan. Dia lantas ingin mengubah karakterr film AAC menjadi sangat pop seperti Kuch Kuch Hotahai … Tuhanku! Tuhanku! selamatkan film ini …
Baru pertama kali terjadi dalam sejarah perkembangan film nasional. Bisa dibayangkan, bagaimana perasaanku waktu itu. Ibu, aku akan persembahkan yang terbaik buatmu … sebuah film agama yang indah dan bersahaja. Yang akan kau kenang … dan semua umat muslim Indonesia dan dunia tentunya …
`Mendadak semua berhenti begitu saja. Impian itu kandas. Producer membatalkan shooting di Kairo dengan alasan bujet produksi yang ditawarkan Egypt Production tidak masuk akal. Tammer Abbas menawarkan angka 3 kali lipat produksi standart Film Indonesia. 1 Film AAC di produksi sama saja memproduksi 3 film layar lebar di Jakarta. Siapapun producer di negeri ini akan berfikiran sama: Membatalkan produksi Film.
Pada saat shooting, aku melihat kairo berdiri di Jakarta dan semarang. Aku melihat metro yang dibangun bangsa Prancis di stasiun Manggarai. Aku melihat perpustakaan Al Azhar dan ruang Talaqi masjid Al Azhar di Gedung Cipta Niaga Jakarta Kota. Flat Fahri, Flat Maria dan Pasar El Khalili di kota lama dan Gedung Lawang Sewu Semarang. Ruang sidang pengadilan Fahri di Gereja Imanuel Jakarta.
Tidak terasa, persoalan sudah menjadi bagian dari produksi ini. Malah, ketika persoalan tidak muncul aku merasa ada yang aneh. Terlepas dari semua itu, aku senang bisa terlibat dalam persoalan. Terlebih lagi, persoalan itu bisa terpecahkan sekalipun dengan air mata. Semoga kedepan, aku bisa lebih dewasa.
Ya Alloh, Apakah aku terlalu kotor memproduksi film ini, maka kau berikan hambatan buatku untuk yang terbaik?
Tapi apa itu idealisme? Apakah Kang Abik dan jutaan pembaca AAC mengerti soal idealisme ini? Apa yang mereka bisa berikan buat mengganti segudang persoalan kami disini? Mereka tidak lebih dari sekedar penonton yang menuntut hiburan atau membanding-bandingkan Film dengan Novelnya. Lantas jika tidak sama dengan Novelnya terus mencaci maki, menganggap bodoh dan kafir sutradara yang membuat. Karena hal-hal islami dalam Novel tidak tampak, tidak terasa.
Lagi-lagi dadaku sesak. Tapi aku tidak bisa lari. Aku sudah berjanji kepada diriku, anakku dan ibuku untuk memberikan yang terbaik.
‘Kalau kamu sudah bisa membuat film. Buatlah film tentang agamamu.’ Kata ibuku yang terus menerus terngiang.
Sampai tulisan ini dikirim, aku masih menyelesaikan proses film Ayat-Ayat Cinta yang semakin lama semakin rumit secara teknis. Sehingga mengakibatkan jadwal Tayang Ayat-Ayat Cinta mundur di bulan Januari. Aku tidak berani menjelaskan kerumitan itu, karena sifatnya technical sekali. Pendeknya, produksi Ayat-Ayat Cinta adalah produksi yang penuh dengan cobaan dibandingkan 6 filmku sebelumnya.
Ditulis dalam iseng









