Hati-hati sebelum membaca tulisan ini karena mungkin banget hal ini tidak sesuai dengan seluruh kondisi karena berdasarkan subjektifitas yang dialami penulis. Tulisan di bawah ini tidak bermaksud mengeneralisir keadaan sehingga jangan ditelan bulat-bulat.
12 tahun yang lalu, KM ITB didirikan dengan suatu tujuan luhur yaitu ikut serta mengusahakan tujuan pendidikan perguruan tinggi dan tentunya memberikan sumbangsih kepada bangsa Indonesia. Sudah sejauh mana usia 12 tahun KM ITB mencapai tujuan tersebut?
Ada yang pernah bilang bahwa organisasi yang baik adalah ketika organisasi tersebut selalu memberikan nilai tambah atau manfaat bagi sekitarnya. Bagaimana dengan KM ITB? Apakah KM ITB telah menjadi organisasi yang memberikan nilai tambah atau manfaat? Layakkah KM ITB diakui sebagai suatu organisasi mahasiswa terbesar di ITB dengan parameter tersebut? Pertanyaan yang harus bisa dijawab di umur 12 tahun KM ITB saat ini!
Di sisi lain, ironisnya kondisi internal KM ITB saat ini memiliki kenyataan bahwa terdapat keinginan beberapa anggota KM ITB untuk pembubaran KM ITB atas apatisme mahasiswa terhadap kemahasiswaan. Sementara itu, kita dihadapkan pada suatu kondisi negeri ini namun kita belum berbuat apa-apa bagi mereka! Analoginya sebuah pedang yang tumpul maka seperti itu mungkin kemahasiswaan ITB menjawab permasalahan bangsa.
Dengarlah suara
Seruan rakyatmu
Tertindas terbelenggu menanti tanganmuBerikanlah cahayamu
Bagi negeriku….
Bagaimana bila kita berhenti sejenak bertanya “ada apa dengan kemahasiswaan?” atau “ada apa dengan KM ITB?” bahkan dengan kalimat “KM ITB harus segera berubah!”. Untuk mencari solusinya bagaimana bila kita melihat dari paradigma berbeda. Suatu sumber masalah yang lebih real yang perlu disadari yaitu bukan pada KM ITB bukan pula pada kemahasiswaan ITB tapi pada MAHASISWA ITB. “Ada apa dengan Mahasiswa?” “Mahasiswa ITB harus segera berubah!”. Maaf saja atas pandangan subjektif saya…
Menurut saya, bukankah ini masalah???
- bila mahasiswa ITB membicarakan peran lembaga masing-masing di kemahasiswaan terpusat maka pertanyaan yang muncul adalah seberapa besar manfaat yang diperoleh masing-masing lembaga dan bukan seberapa besar manfaat yang diperoleh kemahasiswaan terpusat maupun ITB
- bila mahasiswa ITB membicarakan tentang peran mahasiswa di sistem ITB (wakil mahasiswa di MWA) maka pertanyaan yang muncul yaitu seberapa besar persentasi kemahasiswaan dibahas disana bukan pada seberapa besar masalah pendidikan ITB dipikirkan ataupun seberapa besar kesejahteraan pegawai maupun dosen ITB sebagai pendidik kita dibahas.
- bila mahasiswa ITB diminta berkumpul untuk membahas masalah masing-masing lembaga, pola hubungan dengan rektorat, dan masalah internal lainnya peminatnya lebih banyak dibandingkan bila diminta untuk kegiatan pengabdian masyarakat
dan banyak realita lain yang tidak ingin saya besar-besarkan disini. Realita diatas mungkin hal kecil yang justru dipengaruhi oleh perilaku kita di ruang kuliah atau dalam ujian.
Jadi apa masalah dari mahasiswa ITB?
Bagi saya masalahnya adalah mahasiswa pada umumnya terlalu sering MEMINTA tanpa tapi kadang-kadang lupa MEMBERI
Bagaimana caranya mahasiswa ITB bisa membangun bangsa ini bila segala hal yang dia lakukan harus menguntungkannya. Padahal seorang pahlawan dituntut untuk selalu berkorban.
Ada yang bilang setiap 10 tahun maka selalu ada momen kebangkitan mahasiswa. Dulu tahun ‘78, ‘87, ‘98, apakah momen itu juga akan muncul di tahun 2008 di usia KM ITB yang ke 12… Kebangkitan itu bukan selalu berwujud melawan sebuah rezim pemerintahan ataupun rektorat, tidak masalah bukan kalau yang perlu kita lawan adalah diri kita sendiri.
Dies Natalis KM ITB ke-12
(20 Januari 2008)









