Kenaikan harga bahan bakar minyak biasanya segera diikuti kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok. Sementara penghasilan tidak secara langsung meningkat. Hal ini pula yang kini menjadi beban pikiran Abdullah, seorang guru sekolah dasar di Jakarta. Sudah 22 tahun ia mengabdi sebagai guru dan melakoni kehidupan sederhana hasil dari mengajar agama di SD Negeri 02 Petang Bendungan Hilir, Jakarta Pusat.
Kini ia bigung karena sadar jalan hidupnya dengan seorang istri dan enam orang anak tidak akan makin mudah setelah pemerintah benar-benar menaikkan harga BBM. Kenaikan harga BBM yang pasti akan segera pula diikuti kenaikan harga sembako membuat berpikir panjang. Karena itu Abdullah sudah bersiap diri menyiasati kondisi agar dapurnya tetap berasap sepanjang bulan.
Bukan hanya menu makanan, mungkin Abdullah juga harus menyiasati ongkos transportasi yang pasti membengkak. Bagaimanapun beratnya kondisi nanti, tidak ada pilihan lain bagi Abdullah selain berusaha semakin pintar menyiasati gaji yang belum jelas apakah akan juga ikut naik. Apalagi kompensasi kenaikan harga BBM pasti tidak akan ia terima.
Saya yakin masih banyak Abdullah lain di negeri ini. Hiks miris yah. Krisis Energi ini secara tidak langsung berdampak juga pada semua bidang kehidupan kita. Ya iyalah hampir segala hal yang kita pakai sekarang ini diproduksi dengan membutuhkan energi. Eniwei, hari ini minyak dunia sudah mencapai 128 barel/dolar. Mengutip berita di Detik.com, seorang anggota DPR berkata “kalau BBM naik 30% maka jumlah penduduk miskin akan bertambah sekitar 3 jutaan”
So apa yang bisa saya lakukan? Saya masih menyimpan mimpi Indonesia di masa mendatang akan berkembang berbagai energi alternatif seperti biofuel yang diperoleh dari daratan, hingga diperoleh dari lautan yaitu Energi Panas Laut (restui jalan kami Ya Rabb). Saya kadang gemes kalau ngomongin tentang energi alternatif, sejak SMA saya tahu ada yang beginian tapi ampe sekarang tetap saja BBM merajalela. Alasannya biasanya ada aja kelemahan dari masing-masing energi atau mungkin harga produksi yang tinggi, dan banyak lainnya hingga akhirnya semua selalu kembali ke penggunaan BBM.
Tapi jangan putus asa fitra, edison aja berkali-kali mencoba baru mendapatkan lampu yang bisa nyala
Sederhananya masyarakat Indonesia perlu mengubah ketergantungan terhadap fossil based fuel menuju ke energi alternatif yang non fossil based fuel. Kita perlu mengurangi ketergantungan penggunaan energi dari fossil, tidak mudah emang ibaratnya orang yang udah nyaman pakai windows trus disuruh pindah pakai Linux (lah maksa banget nih, termasuk saya hahaha).
Yah mungkin memang benar kita kasihan karena masalah ekonomi yang berat seperti kata Presiden kita di pidato kenegaraan seminggu yang lalu. Tapi terlepas dari kondisi yang menghimpit kita itu yakinlah bahwa Indonesia tetap harus Bangkit. Indonesia dianugrahkan banyak potensi yang beberapa diantaranya belum tergali. Mari teman, kreatif mencari solusi untuk Kebangkitan Bangsa ini. Eniwei, Oleh karena terkadang orang yang terjepit bisa jadi semakin kreatif mencari solusi maka ke depannya semoga semakin banyak rakyat yang bisa mengaplikasikan energi-energi alternatif atau dapat menciptakan sendiri energi seperti program desa mandiri energi (teringat pada usaha seorang Ibu Tri Mumpuni), dan banyak lainnya. Satu tangan Ibu Tri Mumpuni mungkin secara tidak langsung dapat membantu Pak Abdullah tapi banyak Pak Abdullah lain yang butuh tangan-tangan lainnya. Tangan ini mungkin tidak bisa berbuat banyak hari ini tapi minimal tangan ini masih bisa diangkat untuk berdoa untuk Pak Abdullah lain agar selalu tegar dan kreatif, berdoa agar makin banyak Ibu Tri Mumpuni yang lahir dari Ibu Pertiwi, dan juga berdoa untuk para pemimpin kami agar BIJAK dan KREATIF dalam menghadapi masalah Bangsa ini…
Apakah tangan kita akan menjadi bagian dari itu???
-sekedarberbagikekhawatiran-
Ditulis dalam BBM









