Orang tua dan anak

“Dibalik keberhasilan seseorang terdapat seorang wanita hebat”
Asumsi gw terhadap wanita disitu bisa berarti istri dan ibu. Nah, dalam hal ini gw maksudkan ibu yang notabene adalah orang tua. Ungkapan di atas dapat berarti kebalikannya juga yaitu bila seorang anak berbuat salah maka orang tua juga bisa mempengaruhi secara tidak langsung ha tersebut. Perilaku seorang anak walaupun yang telah mandiri (gak pernah diatur orang tua) secara langsung maupun tidak langsung dipengaruhi oleh orang tua. Sederhananya tuh seperti ini, anak adalah amanah dari tuhan kepada orang tua makanya ketika seorang anak berbuat salah, di akhirat orang tuanya juga harus bertanggung jawab terhadap amanah tersebut.

Begitu pun juga, antara murid dan guru. Ketika rata-rata murid memperoleh nilai yang rendah, itu berarti tanggung jawab guru untuk mengevaluasi diri apakah cara mengajarnya belum tepat. Ketika murid mencontek, bisa saja karena guru juga kurang disiplin memperhatikan guru. Ketika murid sering ngantuk di kelas, guru juga berperan menyebabkan hal tersebut.

Intinya sih sebagai orang yang memiliki kedudukan lebih mempunyai tanggung jawab moril terhadap orang yang ada di bawahnya. Seperti halnya, pada orang-orang miskin di Indonesia adalah tanggung jawab bagi orang-orang mampu di Indonesia, tapi eniwei yang diatur di UUD orang miskin tanggung jawab negara yah.(berhenti disini saja sebelum tulisan ini melebar karena gw penulisnya)

Nah, kira-kira bisa gak yah bila gw ingin mengatakan ketika LPJ kabinet KM ITB 0607 ditolak(dan emang udah ditolak) maka salah satu fungsi kongres KM ITB 0607 sebagai pengawas kinerja kabinet adalah gagal halusnya tidak memuaskan. gw berpatokan kepada ungkapan di atas, seharusnya ketika kongres itu kuat dan disiplin mengawasi, mengingatkan maka kekurangan ataupun kesalahan kabinet tidak seharusnya terjadi. Walaupun ditengah kepengurusan sebenarnya kongres pernah memberikan memorandum kepada kabinet atas kinerja yang kurang namun hasilnya hingga akhir kerja kabinet tidak benar-benar membaik. mengapa? Mengutip, kata salah seorang yang ngomong di forum kongres tadi malam, kabinet hanya memperbaiki poin-poin yang terdapat di memorandum saja sedangkan poin-poin memorandum kongres kurang “esensial”.
Bila, ini adalah satu-satunya LPJ kabinet yang ditolak maka sebenarnya tanggung jawab bersama, ada apa sih dengan kemahasiswaan kita, kenapa kongres gak kuat alias gak bisa ngontrol kabinet dengan baik *ehm, agak subjektif*? kalau kata ka HMP menghimbau agar himpunan-himpunan mengirimkan orang terbaiknya di kongres karena ketika kongres kuat (legitimasinya kuat karena mewakili segala komponen dan berisi orang2 ‘terbaik’ dari masing-masing himpunan) maka seharusnya kabinet bisa terawasi dengan baik.
Atau mungkin pertimbangan penolakan itu adalah sebagai bahan pembelajaran agar anak-anak berikutnya gak melakukan kesalahan yang sama. Makanya orang tua yang berikutnya harus lebih perhatian dan peka permasalahan anak.
Berat juga yah jadi orang tua???
Seperti halnya anak sebagai sebuah amanah bagi orang tua, jabatan senator juga sebuah amanah bagi anggota kongres. Hehehe berusaha menghubung-hubungkan…Jam2 menunggu apakah kongres KM ITB akan terbentuk atau enggak.

Dedicated to luv mom and dad

8 thoughts on “Orang tua dan anak

  1. sy kagum sama tulisanmu…
    sy lebih ngerti pada awal tulisannya… biasanya memang orang yang posisinya diatas (kakak,orangtua, senior) akan lebih bertanggung jawab dan lebih khawatir kepada keadaan bawahannya.
    Mereka kwatir bila bawahannya akan bertindak lain dari pada yang diinginkannya…
    Ole krna itu, saranku ialah komunikasi merupakan jembatan antara kedua kubu tersebut. bila tercipta suatu komunikasi yang baik antara kedua kubu itu maka semua akan berjalan pada jaluryang baik..
    thanks..

  2. beginilah kalo banyak sekubu.
    pengawasannya jadi kurang.
    pas diakhir baru sadar ga ngelakuin apa-apa

    belum tentu da wanita dibelakangnya.
    Alm prof sudjoko dari sr ga ada wanita dibelakangnya

  3. @maddeus : hhihihi terimakasih🙂🙂🙂 . emang komunikasi itu selalu jadi kunci
    @dimas : no comment ah😀
    @sawung : walaupun gk ada istri tapi pasti ada ibu kan😀 atau sebaliknya. atau ada teman, saudara, nenek, tante hehehehe. kok jd narsis jender gini awak (ini ikut2 siapa yah)

  4. ngomong2 soal senator,

    jadi inget sore kemaren pas Fitra heboh banget di lab SI, cerita about senator KM ITB (pokoknya sekitar itu) kepada gue and Lafra dengan semangatnya.

    udah kayak anak SMP lagi nyeritain Backstreet Boys. hahaha. Fitra total yah kalo berorganisasi.

    sugoooiii.. semangat!

  5. setuju…
    makanya surga ada di telapak kaki ibu khan, hhhmm, nyambung ga ya, hehehehheheeee…
    oupssss, ternyata ga hanya di himp aja ya yg lg byk masalah, di KM ternyata terjadi jg ya, kira2 kapa ya kok bs seperti itu????

  6. fit.. jadi kmaren si dwi diapain ama kongres? kok bisa2 nya dia kayak gitu.. masuk2in bem luar padahal yang di undang adalah KM itb.. bahkan presiden terpilihnya aja gak ikut masuk..

  7. @dimas
    Dwi masukin BEM lain karena pertimbangannya pendidikan sospol di mahasiswa ITB masih kurang.
    klo Presiden terpilih kmrn gk ikut masuk krn sebelumnya Ijul sudah bilang bahwa dia setuju atas hal yg dibawa oleh DWi tapi ijuk gk ikutan/gk stuju utk aksi yang dilakukan.
    @bagoest: emang kahim Plano ditolak jg LPJnya?waduh jgn sampai HMIF ditolak lpjnya hehehhehehehe
    @mandhut : sugoi…makasih manda…soalnya emang kmrn aq dapat berita2 yg cukup surprise bagiku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s