Pegawai atau Pengusaha

Ingat gak waktu kecil di sekolah kita pernah ditanyai oleh guru kita,
“bapak kerja dimana?”.
Tapi, jarang atau hampir gak ada guru yang bertanya,
“bapak usaha apa?”
Begitulah sekilas gambaran yang diceritakan oleh ketua HIPMI saat ini waktu talkshow IEC yang lalu, untuk menjawab pertanyaan dari salah seorang peserta tentang kenapa sih pengusaha belum menjadi pekerjaan yang diminati di Indonesia ini.
Dari cerita diatas terlihat bahwa sejak kecil pun emang masyarakat Indonesia kurang diarahkan untuk menjadi wirausaha atau bahasa kerennya pengusaha. Hal ini cenderung disebabkan kultur yang berkembang di Indonesia cenderung menganaktirikan pekerjaan pengusaha.

Gak bermaksud menghubung-hubungkan tulisan ini dengan tulisan sebelumnya tapi trully gak disengaja tiba2 kepikiran hal yang menarik krn dipicu oleh acara editorial malam metro TV suatu malam minggu lalu. Tema editorial malam kali ini yaitu menyoroti kurangnya minat masyarakat Indonesia untuk menjadi pengusaha karena sebagian besar hanya ingin menjadi pegawai.
Hasil jajak pendapat menyebutkan bahwa hanya sekitar 20% masyarakat Indonesia yg berniat menjadi pengusaha dan kebanyakan berminat menjadi pegawai negeri. Sayangnya sebagian besar pengusaha Indonesia ternyata bukanlah pribumi. Lucu juga pas dengar hal tersebut karena selama ini gw pikir udah gk laku lagi pekerjaan sebagai pegawai negeri (padahal kedua ortu gw PNS hehehehe). Bahkan waktu dulu gw pernah jalan2 ke dept BUMN, deputinya menko BUMN menyoroti bahwa pekerjaan menjadi pegawai BUMN bukanlah pekerjaan yg dicari2 (kayaknya ditujukan khusus bwt anak ITB deh🙂 ).
Bukan berarti menganggap bahwa seorang pegawai khususnya pegawai negeri itu bukan pekerjaan yang mulia tapi seperti yang disebutkan editorial bahwa keterpurukan ekonomi Indonesia saat ini salah satunya disebabkan karena tidak bergeraknya sektor riil(sektor wirausaha). Bahkan China berkembang karena kemajuan sektor usahanya. Jadi, kalau ingin berperan untuk mengembangkan perekonomian Indonesia gk perlu muluk-muluk mau jadi pejabat ato bahkan menteri perekonomian tapi cukup jadilah pengusaha yang ‘sehat’. Sayangnya ketika banyak masyarakat Indonesia yang ingin jadi pekerja dan khususnya pegawai negeri justru akan menjadi beban juga bagi pemerintah kecuali kalau mau jadi TKI ato TKW krn malah menambah devisa😀.

Kemungkinan alasan masyarakat Indonesia yang cenderung ingin menjadi pekerja yaitu karena kenyamanan dapat menerima gaji tiap bulan dan resiko yang lebih kecil. Gak ada yang salah dengan hal itu namun disinilah terlihat gambaran kecenderungan masyarakat Indonesia pada umumnya yang kurang berani mengambil resiko dan ingin hidup lebih aman.
Jangan marah klo ada yg bilang bangsa Indonesia adalah bangsa pekerja karena begitulah adanya😀. Ato yang paling parah, Indonesia adalah bangsa kuli.
Alasan lain yang juga masih ada dan bahkan menurut gw bodoh sekali yaitu adanya warisan budaya feodal dari bangsa belanda tentang pengusaha atau pedagang yang ditempatkan pada kasta terbawah (lupa gw namanya). Bahkan ada persepsi di masyarakat bahwa pengusaha selalu mencari untung dan kapitalistik. Begitulah ketika kita hanya memandang dunia usaha secara sempit padahal hal yang dilakukan seorang wirausaha cukup mulia karena dapat menyediakan lapangan pekerjaan buat orang lain(kalimat yang selalu diulang-ulang oleh guru ekonomiku di kelas 3 SMP). Beberapa alasan2 penghambat seseorang menjadi pengusaha diawali dari pandangan-pandangan kurang intelek yang beredar di kalangan masyarakat. Jadi, faktor dominan yang membuat pengusaha kurang diminati karena kultur kita masih seperti itu.

Ada satu lagi persepsi yang berkembang saat ini yang udah memakan kreatifitas atopun keberanian masyarakat Indonesia untuk menjadi wirausaha yaitu anggapan selama ini pengusaha-pengusaha yang ada di Indonesia menjalankan usaha keluarga yang diturunkan padanya. gw pun pernah berpikir seperti ini, makanya gw n upik pernah bermimpi nikah dengan putra mahkota dari salah satu keluarga elit atau kami menyebutnya dinasti contohnya anindya bakrie, keluarga kalla(kl ini mah mending berteman aja ama penerus2nya😀 ), keluarga panigoro, hahahahaha udah KTT(khayalan tingkat tinggi), gila banget. Memang benar mayoritas seperti itu adanya (buktinya ada di majalah SWA bulan januari yang isinya pengusaha2 muda yang rata2 adalah putra mahkota dari keluarganya) tapi jangan dijadikan alasan untuk tidak mencoba untuk memulai usaha. Padahal sebenarnya pasti perusahaan yang dimiliki mereka harus selalu dibangun dari nol juga dan tentunya ada orang-orang (pendahulu mereka) yang berjasa akan hal tersebut. Jadi, setiap orang pun berkesempatan seperti itu asalkan mau.

Hal lain yang juga menjadi hambatan yaitu birokrasi. (di luar topik) Miris aja dengar wapres ngomong klo menyayangkan kaum muda saat ini kurang tertarik dengan sektor usaha dan cenderung memilih terjun dalam bidang politik karena dipandang lebih menjanjikan. Kelihatannya di kampusku sih gk begitu deh soalnya hasil poling kongres kemaren justru pekerjaan yang hampir menempati tempat terbawah untuk diminati yaitu politikus. Jadi intinya birokrasi kurang kondusif utk tumbuhnya usaha baru karena perijinan dipersulit, dll. Trus ada juga yg beranggapan desentralisasi dan otonomi daerah malah meningkatkan korupsi di birokrasi(ini sih kata mereka, klo gw mah gk ngerti).

– Jadi, menurut gw bagaimana cara mentrigger lebih banyak lagi masyarakat Indonesia agar terjun ke dunia usaha yaitu adanya dukungan dari segala pihak yaitu pemerintah(mendukung secara real tentunya), pemilik modal (investor), dan pendidikan tentunya.
Sok tau gini gw ngomongnya padahal nyicipin jadi pengusaha pun belum, belajar ekonomi pun tidak.

17 thoughts on “Pegawai atau Pengusaha

  1. “bapak kerja dimana?”.
    every time someone asks me this question that would be every lie i have done..

    “Beberapa alasan2 penghambat seseorang menjadi pengusaha diawali dari pandangan-pandangan kurang intelek yang beredar di kalangan masyarakat. ”
    kayanya nyari modal lebih susah de.. should be hard to get trust from the others..

  2. Every person, of course has had their own goal, if they want to be an enterpreneur or be a professional.
    The most important thing is whenever he/she is. they have to be serious with their duty. As a profesional, how they can work hard, to improve their company.
    As an enterpreneeur, how they can make a work field to reduce unemploymnet, and don’t make a tricky.
    An enterpreneur cannot live without a profesiional which take care their company.

  3. @Dende : iy penasaran banget kl dengar cerita dari K1
    @def: setidaknya ketika dia udah berpikir nyari modal berarti dia udah berminat jadi pengusaha
    @ppsdms : setuju. jadi kmu mau jadi yang mana? kayaknya sih bakalan dua2 nya😀

  4. Kesuksesan google, yahoo, napster, friendster, dll yang kebanyakan dari kalangan muda entrepreneur bersemangat membuat kita yakin bahwa kita juga mampu seperti mereka. bismillah…
    Dunia semakin datar kawan…semuanya terbuka. Ga disembunyiin…masa si ga bisa…
    Masihkah mahasiswa ITB yang notabene putra terbaik bangsa akan lebih senang bekerja di Cevron, Unilever, Schlumberger, dll daripada bekerja di Medco, Pertamina, PT DI, dll. Mudah2an keadaan seperti itu terbalik 2030 nanti. Di saat kita-kita menjadi bos-bos di perusahaan2 besar Indonesia.
    hidup pengusaha indonesia…pengusaha bersatu Indonesia tak bisa dikalahkan…hwakakakak….

  5. @gitaditya: susah kl dia mah wuakakakakak…
    @Trian: makasih koreksinya😀
    @Zaky: ampun zaky….ayo donk kongkrit mana idenya….Btw,gw lebih milih KP di MEDCO kok daripada TOTAL tapi herannya kok lebih mudah diterima di TOTAL.GMn nih kyknya perusahaan asing itu emang ngincer anak2 ITB deh😀
    @inay: dasar inay…. komen yg ini nih cocoknya di postingan sebelumnya ttg theme ato di guestbook aja

  6. pengusaha pegawai aja. Di jakarta sudah bermunculan perusahaan yang ngusahaain pegawai.

    Lho ga sukses berarti bisnis ama ivannya?
    sibuk pulitik seh. satusibuk di kongres satu di kab.

  7. kalo di jepang
    1. Pendeta
    2. Samurai
    3. Pembuat senjata
    4. Petani
    5. Pedagang

    Jadi, kalo dijepun, industrialis setingkat dibawah penguasa. Tapi, kalo di AS, pebisnis diatas penguasa…. Kalo di Indonesia, penguasa dan pebisnis sami mawon…

    tinggal pilih mau dimana ente tinggal.

  8. @sawung : ye…siapa jg yg berpulitik😛
    @horst wessel: hah yg bener mana tuh di jepun pengusaha diatas ato di bawah penguasa
    @arul : Ketua HIMPI itu sandiaga s. uno.

  9. To zaky,

    We can’t blame them. things that we can do, how we can improve our National Company to attrack, ” Putra – Putri Terbaik Bangsa “.

    Every people is not always like U , may be to attrack them , we can’t wait for them, but we should get the ball, OK.

  10. perasaan udah jelas dengan penjelasan dan enumerasi deh.
    pengusaha setingkat dibawah penguasa.

    @ sawung, gimana yah, mata gw udah tertuju pada 1 hal, kemakmuran dan persatuan bangsa untuk menghadapi percepatan globalisasi dan pasar bebas yang tampak tak terelakkan. It’s not politics nor personal, it’s purely business.

  11. Bikin usaha di Indonesia:
    – cari modal susah, pinjem uang dari bank… wow… riba…
    – pajak… horor… tahulah kelakuan aparat pajak, meskipun ngga pernah berurusan langsung, tapi cerita soal ini udah banyak sekali
    – peraturan pemerintah aneh-aneh, misal: harus bayar pesangon untuk pegawai yang dipecat (meskipun dipecat karena pegawai tsb mencuri)
    – nggak ada kepastian/perlindungan hukum
    – capek juga kalo harus berhubungan dengan orang-orang korup (dari pemerintahan)

    Maaf nulis ga jelas dan ga konstruktif…

  12. Cubo lur, kasih teu gmn ngeyakinin diri sendiri untuk membuka usaha, dari dulu mo buka usaha tapi gak jalan-jalan,. tolong yeee…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s