KM butuh KM

Seharusnya tulisan ini diposting kemaren…tepat tanggal 7 bulan 7 tahun 2007 dan harusnya jam 07.07.07…(gila!!!)
gw gk bakal ngebahas tanggal kemaren yg cantik tapi gw bakal bercerita tentang…yah bsa dibaca dari judulnya..postingan kali ini bercerita tentang KM…
kedua kata KM di judul tersebut memiliki arti yang berbeda…
KM pertama artinya Keluarga Mahasiswa…
Sebelumnya gw udah beberapa kali menyebutkan tentang Keluarga Mahasiswa…
emang yg mana yah??? itu tuh yang ada hubungannya ma OSKM, kongres, kabinet, himpunan, dll.
KM yang kedua artinya Knowledge Management

Sebelumnya gw mau ceritain dikit knowledge management itu apa?
kebetulan Knowledge Management adalah topik KP gw saat ini.
Tenang gw gk bakal tulis segala tentang KM disini…cukup gw ngemeng di laporan KP gw😀
Jangan mengira kalau KM itu adalah suatu bidang dalam IT…salah banget…
Justru setiap orang yang berorganisasi harusnya tahu hal ini. I suggest…
KM adalah sebuah multi dimensi ilmu…Seorang ahli KM dari Medco Energi (yang kemaren gw wawancara) mengatakan KM terdiri dari 4 komponen yaitu People, Process, Content, Technology…
IT tentunya termasuk dalam Technology dan biasanya disebut dengan IT enabler. Dari sebutannya seharusnya kalian bisa simpulkan adanya IT bukan faktor mutlak keberhasilan KM sehingga disebut ‘enabler’ atau gw suka sebut pendukung.

Jadi Knowledge Management itu apa sih?

PERINGATAN: Buat yang gak mampu baca tulisan sepanjang ini sebaiknya jangan dibaca karena gw takut aja ada transfer knowledge yang hilang kalau tulisan ini dibaca lompat-lompat hehehehehe
Sederhananya KM adalah bentuk proses yang mengkoordinasikan penggunaan pengetahuan dari sebuah organisasi.
Definisi lengkap KM yaitu Pendekatan sistemik yang membantu creating dan sharing knowledge kepada orang yang tepat pada saat yang tepat untuk menciptakan nilai (American Productivity and Quality Centre APQC).
Tapi definisi yang gw suka dari salah satu ahlinya nih yaitu Pengelolaan knowledge perusahaan(organisasi) dalam menciptakan nilai bisnis (business value) dan menghasilkan keunggulan kompetitif yang berkesinambungan (sustainable competitive advantage) (amrit Tiwana).

Kenapa harus knowledge?
gw mengutip sebuah definisi dari sebuah buku, dimana knowledge (pengetahuan) yaitu Informasi yang mengubah sesuatu atau seseorang, hal ini terjadi ketika informasi tersebut menjadi dasar untuk bertindak, atau ketika informasi tersebut dapat membantu seseorang atau institusi untuk mengambil tindakan yang berbeda atau tindakan yang lebih efektif.
Entah lu sadar ato gak…yang pasti sekarang kita sedang berada di era pengetahuan..bukan era mesin industri apalagi manual.
Konsekuensinya, pada era ini, pengetahuan telah menjadi modal yang sangat menentukan perkembangan sekaligus pertumbuhan organisasi. Era pengetahuan ini akhirnya semakin berkembang pesat sejak berkembangnya teknologi informatika.
Tatanan kehidupan era pengetahuan pun semakin kompleks dan tidak pasti. terlihat dari apanya??(silahkan rasakan sendiri) klo bagi gw sih kelihatan dari informasi yang mudah diperoleh tapi sekaligus cepat kadaluarsa…
Sampai sini gw harap pembaca bener2 yakin bahwa knowledge itu penting

Nah terus, seberapa pentingnya sih perlu mengatur knowledge di suatu organisasi?
Gampang jawabnya, karena kita kita sedang berada di era pengetahuan maka agar sebuah organisasi dapat bersaing dan tetap bertahan maka dia harusnya bisa mengelola knowledge dengan baik agar knowledge tersebut gak hilang begitu saja atau parahnya diambil ma saingannya.Tapi gk hanya itu aja. Jawaban itu udah masuk impact KM secara kompleks. coba kita lihat contoh sederhana deh..
Gw akan tulisin lewat sebuah ilustrasi dan sekaligus akan memberi gambaran apa yang dapat dilakukan KM terhadap keberlangsungan sebuah organisasi ato mgkn lu langsung bsa ngerti bagaimana menjawab judul tulisan gw
(kl udah ngerti sampe sini, mending lu berhenti aja baca tulisan ini daripada lu sakit mata hehehehhe)

Start
Seorang karyawan, Adang, yang baru masuk dalam perusahaan sebut saja SCU (hehehe promosi tempat KP) memiliki pengetahuan yang terbatas tentang segala hal di perusahaan tersebut seperti produk, layanan, proses produksi, budaya kerja, atasan, dll. seiring dengan perjalanan waktu dan pengalaman kerjanya, Adang akan mengalami proses pembelajaran (baik proses formal maupun informal), sehingga pengetahuannya tentang perusahaan akan meningkat.
Bahkan mungkin saja dia memiliki pengetahuan khusus yang hanya dia yang tau misalnya dalam hal yg paling mengenali perilaku seorang pelanggan. Misalnya kalau di SCU, hanya Adang yang bsa hafal dimana letak penyimpanan aset klien A misalnya. Karena Adang biasa mengerjakan pekerjaan yg berhubungan dengan aset Total maka tentunya Adang lebih cepat menyimpan aset yg berhubungan dgn total.
Semakin lama Adang bekerja dan semakin terbuka pikirannya dalam mempelajari pengetahuan baru maka pengetahuan dan pengalamannya akan semakin besar.

Hal yang dapat menjadi masalah yaitu ketika pengetahuan karyawan tersebut tidak ditransformasikan menjadi pengetahuan perusahaan. Maksudnya?
Bayangkan aja kalau ada karyawan baru, misalnya Fauzi, yang akan mengerjakan hal yang sama seperti Adang namun Fauzi harus belajar dari awal lagi mengenai hal-hal tersebut. Tentu saja hal ini akan membuang-buang waktu saja.
Proses pendidikan Fauzi membutuhkan waktu yang cukup lama dan akan membutuhkan biaya pengembangan yang cukup besar bagi SCU. Apabila hal seperti ini terjadi berulang-ulang, maka dapat dipastikan bahwa kemajuan perusahaan tersebut akan terhambat dan pada akhirnya pertumbuhan bisnisnya akan kalah cepat dibandingkan pesaingnya.(untungnya SCU blm punya banyak saingan :P)

Finish

Cerita di atas menunjukkan betapa pentingnya penerapan knowledge management bagi perusahaan terutama SCU dalam hal menumbuhkembangkan pengetahuan organisasi, sebagai modal untuk meningkatkan daya saing perusahaan.
Bagaimana mengimplementasikan KM??? Nah itu tuh, topik KM gw. gw kasi bonus nih sekilas isi topik KP gw
yaitu menjelaskan langkah taktis implementasi KM di SCU dengan mengkaji 4 komponen yang disebutkan sebelumnya yaitu people, proses, content, technology.

Namun, rancangan gw terbagi menjadi proses, organisasi, dan teknologi.
Di proses, gw menceritakan tentang knowledge apa aja yg dimiliki oleh perusahaan (content- untuk dapetinnya gw harus assessemnt selama seminggu dan gw yakin blm maksimal) dan proses untuk mengelola knowledge yg dimiliki tersebut. Ini gk terlalu hubungannya dengan informatika nih tapi selama proses perancangan justru gw dapat sedikit ilmu baru seperti bisnis, manajemen, teknik industri, perminyakan (soalny berhubungan bisnis SCU)
Di organisasi, gw menjelaskan tentang orang yang menjadi subjek maupun objek dari KM dan struktur organisasi pengelola KM (KM pun jadi unit tersendiri di perusahaan).<iklan mode on> Dalam menentukan struktur organisasi itu gw bener2 gk punya standarisasi tertentu ato pegangan bakulah, mgkn lebih kepada learning by doing (jadi ingat perdebatanku dulu dalam menentukan struktur kongres 78,tapi sayangnya ideku gk kepake) ma bahan kuliah Manajemen Industri dulu(ternyata kepake bgt di KP gw), tapi ternyata pemikiran struktur organisasi unit pengelola KM yg gw bkn sama dengan yang ada di PT. Medco Energi <iklan mode off>.
Ilmu yang akan gw selalu ingat dari Pak Bambang, seorang pegawai senior Elnusa yang ahli dalam hal HRD, mengatakan ke timku: “struktur organisasi yang baik itu yaitu ketika span of controlnya luas” maksudnya tuh klo digambarkan di piramida berarti bentuknya tuh gak Meninggi tapi Melebar. Salah satu hal yg terlihat jelas tentunya karena birokrasinya pendek, dan sebenarnya banyak kelebihan lainnya dipaparkan oleh beliau (semoga gw bsa bkn tulisan ttg obrolan kami).
Di teknologi, nah ini nih baru bidang keilmuan gw. Dalam hal teknologi gw harus mengidentifikasikan teknologi yang seperti apa yang dapat mendukung implementasi konsep KM yang udah gw rancang sebelumnya. Timku pun memutuskan untuk menggunakan teknologi Portal sebagai media KM. Teknologi Portal yang gimana? nah itu kerjaan kita lagi tuh nentuin butuh fitur apa aja, trus bisa dipake siapa aja…dll dah.

Guess what?Blog pun salah satu IT enabler dari KM dan LIPI menggunakannya sebagai media KM mereka

Masih bingung apa sih KM?
Gw mengutip dari salah satu sumber yg gw baca, “Knowledge Management dalam konteks organisasi pembelajar”oleh Jan HidajatTjakraatmadja(Prof dari SBM)-Donald CrestofelLanto, bahwa hal yang esensial dalam Knowledge Management yaitu membentuk lingkungan belajar yang kondusif, sehingga para pekerja termotivasi untuk terus belajar, memanfaatkan informasi atau pengetahuan yang disediakan perusahaan, dan mengembangkan pengetahuan individualnya, serta pada akhirnya mau berbagi pengetahuan baru yang didapatnya untuk menjadi pengetahuan organisasi.
Artinya Knowledge Management dibutuhkan untuk mengelola proses transformasi pengetahuan individu menjadi pengetahuan organisasi.
Hubungannya dengan KM dengan IT?
Perkembangan teknologi informasi telah meningkatkan produktivitas penemuan pengetahuan (mempermudah proses pengelolaan organisasi) serta mempercepat proses implementasinya sehingga memungkinkan organisasi untuk mendistribusikan pengetahuan di dalamnya.

Organisasi yang tidak mampu mentransformasikan pengetahuan individu menjadi pengetahuan organisasional akan merasa terus belajar, namun sebenarnya tidak pernah belajar

Bagaimana dengan HMIF yang ingin menjadi organisasi pembelajar???

Gw berharap Ka HMIF skrg maupun berikutnya dapat slalu membudayakan budaya menulis di HMIF dengan tujuan akhir HMIF sebagai organisasi pembelajar seutuhnya tentunya. Bisa dilihat ada blog khusus untuk memediakan kampanye menulisnya, coba dilihat disini

Sekarang, kita gak akan membicarakan tentang HMIF, SCU apalagi Medco.
Sekarang gw mau menggambarkan kenapa KM butuh KM
Berawal dari studi kasus yg gw temui ketika beraktivitas disana. Walaupun ini bukan sebuah analisi kondisi yang rinci (jadi ingat forum massa kampus ma panitia OSKM kmrn-> hanya krn analisis kondisi) dan mungkin masih berupa pengalaman gw seorang jadi tapi gw yakin kalau KM sebagai sebuah organisasi mahasiswa yang diakui di ART ITB ingin tetap eksis nah sebaiknya perlu ada evaluasi disana apakah selama ini proses transformasi pengetahuannya udah benar apa belum…

Mari kita kita mulai lagi dongengnya😀
Kemarin ada forum permintaan klarifikasi oleh massa kampus(kahim, gw malas aja nyebut FKHJ) kepada kabinet KM ITB dan Panitia PMB 2007 tentang konsep acara PMB. Hasil dari forum itu bsa gw simpulkan bahwa proses transformasi pengetahuan dari kabinet ke ketua PMB, maupun dari ketua PMB ke panitia PMB (tambahin dari kongres ke kabinet juga🙂 ) gak berlangsung dengan baik
Gw males nyebutin2 celah2nya apa aja karena ketua PMB sendiri kayaknya udah berulang-ulang minta maaf karena banyak yang missed tersebut.
Namun salah satu solusi efektif yang mungkin semua orang di forum itu sudah pikirkan yaitu
mendokumentasikan pikiran2 mereka dengan tertulis sehingga proses transformasi pengetahuan antara kabinet ke ketua, dan ketua ke panitia tidak hanya melalui diskusi namun juga berupa dokumen.
Kalau dalam Knowledge Management sendiri hal tersebut disebut dengan proses mengubah tacit knowledge(pengetahuan yang ada di pikiran masing2 individu) ke explicit knowledge(pengetahuan yang telah didokumentasikan). prosesnya pun ada 4 yang disebut dengan SECI model, dan gak akan gw jelasin disini silahkan cari bahannya yg bertebaran di internet.

Bentuk pendokumentasiannya pun gak seenaknya. Walaupun penekanannya disitu perlu ada sharing knowledge (salah satu keyword KM) namun yang tidak boleh terlupakan yaitu data dan informasi sebagai bagian dari knowledge itu sendiri.
Jadi kalau kemarin kabinet menyebutkan analisi kondisi mereka baru berbentuk pengetahuan atau bahkan masih berupa informasi (menurut salah satu orang yang hadir) maka dalam membuat maupun menjelaskan konsep tersebut berawal dari data, kemudian informasi dan pengetahuan hingga akhirnya keluar wisdom misalnya membuat konsep PMB yang berbeda itu.
Kalau pendapat gw kmrn menilai lahirnya konsep PMB tersebut belum memiliki greget ato bahasa kerennya PMB yang kurang ruhnya…
Sebenarnya sih bkn krn kelemahan pada konsep justru krn gw belum benar-benar memahami apa yang dipikirkan oleh kabinet ketika melahirkan konsep tersebut. Disitulah kelemahannya, sebenarnya ketika transfer knowledge itu benar-benar dijalankan dengan baik dan maksimal, gw yakin gak hanya gw yang akan yakin bahkan panitia level bawah pun bisa mengerti dengan baik akan seperti apa PMB nanti dan termasuk juga massa kampus.

Penjelasan konsep yang detail dan gw pengennya berbobot akan menjadi bargain acara PMB untuk diperjuangkan di rektorat tentunya. Mungkin saja bisa menjadi contoh bagi PMB2 di kampus lainnya (sugoi !!!)
Mungkin bagi beberapa orang itu bukan hal yang penting, yang penting semua panitia mau mengerjakan, dan PMB pun jadi. Ok, klo ada yg berpikir seperti itu gak salah, tapi coba pikir bagaimana nasibnya panitia PMB tahun berikutnya???
Apakah mereka harus mencari2 lagi data, mengkaji ulang dari awal konsep PMB. Ketika ada warisan konsep yang lengkap (maksud gw terdokumentasi lengkap ampe notulensi rapat) dari panitia lama ke yang baru pastinya akan memudahkan panitia PMB tahun depan, istilahnya mah gak perlu restart lagi. Kerja panitia akan lebih efisien bahkan knowledge akan selalu bertambah banyak tiap tahun.

Nah itu cuplikan dari cerita teknis panitia OSKM…buat pembaca yang berpikir tersayang seharusnya sadar bahwa itu cuma contoh kecil dan gw pun sebenarnya ketika pertama mengkaji knowledge management, gw merasa sangat berhubungan ma aktivitas gw sekarang di kongres.

BONUS: gw mau kasih tau dikit ttg isi KM yang sebenarnya pun kita sadari itu penting. Hal yang perlu diperhatikan dalam mendefinisikan proses dalam knowledge management (gw jelasin dalam satu subbab di laporan KP gw) yaitu salah satunya mengendalikan perilaku personil.
Apa aja tuh perilaku personil?
yang ini gak ribet kok…bahkan sederhana tapi ngena. ada tiga hal yang gw tekankan selama ini berkurang, pastinya bisa lebih banyak lagi, yaitu:
– minat membaca dan menulis, termasuk rendahnya terhadap ilmu pengetahuan, logika berpikir. Silahkan evaluasi sendiri bagaimana perilaku kita terhadap hal itu. gw sih emang masih rendah. Seharusnya setiap anggota organisasi harus membiasakan hal-hal diatas klo ingin menjalankan KM.
– sharing kegagalan. Gw merasa (maaf gk pke penelitian) budaya orang indonesia tuh cenderung memilih sharing keberhasilan saja dan kurang untuk sharing kegagalan. kalau di buku disebutkan hal ini karena orang indonesia punya mental kerja “takut bos” yang memberikan dampak dia pengen dipandang keberhasilannya saja.
– memberikan feedback. Kalau ini contohnya sederhana yaitu milis-milis yang biasanya sepi balasan. Padahal membalas email di milis biasanya dianggap sepele (termasuk gw tentunya :P) tapi ketika kita membalas itu berarti memberikan feedback dan menjadi salah satu bentuk sharing knowledge. Bayangkan saja kl ternyata ada knowledge yang mungkin bagi kita sepele ternyata sangat berguna bagi orang lain. Mengisi komen di blog gw salah satu contoh juga loh kyaa😛

Banyak hal yang bisa dikaji dalam knowledge management yang sangat berguna untuk keberlangsungan organisasi. Penjelasan gw di atas tuh gak ada apa2nya dibandingkan dengan apa yang ada dalam KM. Bahkan gw yakin jarang ada perusahaan yang melakukan konsep KM yang sempurna. Makanya penekanan KP gw yang penting bsa diimplementasikan dulu. Maaf OOT cerita ttg KP.

Akhirnya ketika gw berpikir Keluarga Mahasiswa ITB butuh Knowledge Management maka gw terpikir pada salah satu proses knowledge management yang sejak dulu telah dilakukan oleh keluarga mahasiswa ITB (proses lain pun ada lagi) yaitu suatu proses berhubungan dengan ilustrasi gw sebelumnya dimana adanya transfer nilai dari mahasiswa lama kepada mahasiswa baru ITB tentang segala hal yang berhubugan dengan mahasiswa (kemahasiswaan). Mahasiswa baru gak perlu harusnya mengalam proses yang sama dengan mahasiswa lama untuk memperoleh knowledge.

Proses transfer nilai itu yang dulunya disebut-sebut sebagai OSKM (Orientasi Studi Keluarga Mahasiswa) dan semoga saja proses itu nantinya ada pada PMB (penerimaan mahasiswa baru). Jangan terpikir bahwa acara ini adalah bentuk perploncoan ataupun balas dendam kami (mahasiswa lama) kepada mahasiswa baru tapi proses ini merupakan sebuah bentuk knowledge management dari Keluarga Mahasiswa ITB dengan tujuan untuk menciptakan keunggulan dari setiap anggota dan akhirnya dapat menjadikan organisasi kami memiliki nilai tambah (tujuan ini juga yang ingin dicapai oleh perusahaan yang mengimplementasikan KM).

Kalau gw mengutip cita-cita dari PMB 2007 yaitu bagaimana melahirkan profil ganesha sesungguhnya
gile kan tuh…maksudnya apa??? tanyakan ke panitia :D…

Gw sebenarnya gak puas ma tulisan gw diatas karena mgkn gak banyak knowledge yang bsa diperoleh untuk pembaca tapi gw berharap:
semoga bsa menjadi pemicu untuk mencari tahu apa sih knowledge management itu? semoga bsa menjadi penyadaran pentingnya berbagi pengetahuan
semoga bsa menjadi inspirasi untuk selalu menulis dan membaca
semoga bsa menjadi reminder untuk mengisi komen gw ahahhaha (maaf OOT)
Ya sudahlah sekian, jangan puas baca tulisan gw dan tunggu cerita berikutnya ttg KM (keluarga mahasiswa maupun knowledge management)

15 thoughts on “KM butuh KM

  1. Hahaha ketawa baca komentar pertama di atas. Eits, gue baca loh, walaupun cuma sekilas-kilas. Berikut komen gue yang bakal cukup panjang juga.

    Hmm, sebetulnya nih topik sangat menarik dan, FYI, sudah lama jadi “issue” baik di HMIF maupun di KM. Meskipun mungkin, dengan nama yang ga se-“keren” knowledge management, misal se-“cupu” sharing, se-non-formal “ngobrol-ngobrol”. Parahnya, kultur non-formal (definisi non-formal adalah *tidak* tertulis) itu sangat-sangat mendarah daging. Banyak hal yang akhirnya hanya berlaku terbatas pada orang-orang yang terlibat langsung di sharing dan obrolan tadi. Padahal, jika bisa ditransfer ke banyak orang, sangat mungkin kontennya bermanfaat.

    OK, IMHO, peran teknologi di sini adalah memudahkan kita untuk men-tacit-kan (atau meng-eksplisit-kan) pengetahuan yang tadinya implisit (hanya ada di kepala beberapa orang), seraya (halah bahasanya) memudahkan (banyak) orang lain untuk mengaksesnya (think search, tagging, categorizing).

    Dan yak, benar, blog di jaman sekarang adalah enabler untuk banyak hal (misal, enables a single person to become a manufacturer (of content)), termasuk soal knowledge management ini. Jadi, setuju dengan Iqbal (entah di blog yang mana) tentang (mungkin kutipan tidak tepat):

    Biasakan budaya menulis

    Mari menulis, dan mari belajar untuk menulis dengan baik. Mau itu blog personal, blog non-personal, artikel buat mading, buat buletin (masih ada ga ya expressIF?), paper (tugas makalah/dokumentasi, jangan ngemeng aja :p), proposal kegiatan, LPJ (ho ho hayo-hayo, jangan sampai ini jadi seonggok buku makanan tikus dan ngengat). Apa kabar situs KM dan HMIF?

    DISCLAIMER: bukan berarti tulisan gue udah bagus loh ya…

    Oya, met (nyelesaiin) KP!

  2. @zaki: eits zaki, kl mau jd entrepreneur dari skrg harus mulai menyadari pentingnya KM. Itu salah satu nilai jual jg utk perusahaan

    @raiza:
    > Parahnya, kultur non-formal (definisi non-formal adalah *tidak* tertulis) itu sangat-sangat mendarah daging

    Yuuuppp…iya nih itu tuh kebiasaan buruk bgt..soalnya aq pun suka begitu

    >kita untuk men-tacit-kan (atau meng-eksplisit-kan) pengetahuan yang tadinya implisit
    ralat dikit: Mengeksplisitkan knowledge yang tadinya masih tacit

    wuah makasih mas raiza dah mau komen sepanjang itu…sip2 emang sebenarnya konsep KM itu sudah disadari dari dulu…sngja diangkat lagi dgn nama KM spy lebih peduli lagi…

    Ayo budayakan menulis…

    @Ari: hehehhehe emang KM bsa diartikan byk. mis. kl kapal juga biasanya disebut KM

  3. postingan yang panjang, fiuuh…

    sedikit ttg Knowledge Mgmt. ada hal yang sebenarnya ‘tidak bisa’ ditransfer, yaitu budaya. jadi kalo contoh Adang-Fauzi diatas (koq Adang -Fauzi sih contohnya?? hidup… hehe), ada yang disebutkan culture, maka menurut saya itu tidak bisa ditransferkan. karena tergolong ‘tidak terlihat’.

    misal: bahan kuliah di ITB sudah di share di web, dan bisa diakses luas di seluruh Indo (bahkan LN, mimpi jadi uni internasional-amin…). tapi, culture kuliah di ITB, yang … bla…. bla… (isi sendiri yg masih kuliah..hehe) tetap tidak bisa ditransfer. gmn??

    anyway, setuju: KM butuh KM. setidaknya, konsep. karena prakteknya, kita tau sama tau lah ya…😀

  4. @Trian: heheheh kl Adang-Fauzi tiba2 kepikran aja…hahahah….nah semangat prakteknya KM butuh KM skrg kl aq blg smakin menurun *berkaca ke diri sendiri hehehe*… nah mungkin saja klo begitu budaya entar bisa ilang *wuih parah bgt, jgn sampe deh*

    @Raiza: hehehhe dimaklumi k…

    @horst_wessel: dilarang nge-Junk disini

  5. Waa..keren banget,tuh. Transfer Pengetahuan,ya. Kebetulan saya juga lagi mempelajari tentang KM yang satu ini. Berikut manusia pembelajar yang menyertainya plus organisasi pembelajarnya juga.

    Kalo dari saya,setelah melihat kemahasiswaan kita yang tiap tahun ganti orang tanpa ada kaderisasi ( dengan definisi kader adalah penerus ) dan regenerasi yang bener, ujung-ujungnya semua juga belajar dari nol. Baru belajar waktu mau melakasanakan,malah.

    Mah, mengingat pergantian yang sangat intens inilah KM dalam bentuk sharing kegagalan maupun pendokumentasian tadi adalah sangat penting. Saya sepakat dengan mbak fitrasani tadi,dua hal inilahyang seharusnya kita lakukan dalam organisasi kemahasiswaan. Terutama kepada penerus-penerus setelah kita.

    Makasih dah diberi kesempatan berkomentar, meski saya juga baru baca blog ini 3 bulan kemudian( sekarang dah oktober). Salam kenal dari ikhwan alim fa’05.

  6. Salam kenal Ikhwan,,,
    wah anak Farmasi beljar tentang knowledge management???
    keren,,,,,,,,,,,,
    yah,,, yah,,, itu masalah kemahasiswaan kita tiap tahun berganti dengan tidak sempat melakukan kaderisasi yang maksimal,,,
    hasilnya yah pengulangan lagi,,, mulai dari nol,,,
    Untuk meminimalisir hal itu yah paling tindak untuk setiap generasi tersebut mesti ada orang yang tetap ada di generasi selanjutnya,,, itulah akhirnya menjadi transfer terbaik… andaikan sistem kaderisasi kita baik sebenarnya gak perlu tapi karena kondisinya sistem kaderisasi yang “gak bener2” melakukan transfer Nilai dan Pengalaman,,, yah gitu deh,,, tetap saja kita mengulang lagi,,,ulang lagi,,,,,

  7. Knowledge management seperti istilah baru..tapi kalo ngelihat pembahasannya jadi gak asing..Tapi saya meyakini Knowledge Management lebih luas dari Transfer Knowledge..

    culture itu pada level tertentu masih bisa didefinisikan..contoh budaya belajar mahasiswa ITB..bahkan diciptakan istilah khusus untuk mendefinisikan budaya belajar mahasiswa ITB ini, masih inget “SKS” (sisten kebut semalem)?? .Artinya selama masih bisa didefinisikan maka objek culture tersebut masih bisa digetok tularkan kepada orang lain..bahkan budaya sudah menjadi komoditi bisnis bagaimana bisa dijual jika budaya tidak bisa dipahami

    Ok terlepas dari bidang apa aja yang susah dibikin KM nya..saya pengin komentar mengenai KM,
    1. Bagaimana mengatasi salah tangkap antara yang memberi knowledge dan menerima knowledge ? apakah ini masuk bagian KM?

    2. Ini yang susah saya kira,bagaimana knowledge yang didapat benar-benar dimanfaatkan oleh yang menerima KM,bagaimana kalau mereka punya pemikiran sendiri? (mirip konsep hidayah) apa ini masuk bagian KM

  8. >Tapi saya meyakini Knowledge Management lebih luas dari Transfer Knowledge..

    kelihatannya sudah cukup tahu.. yah benar. Memang KM luas sekali bahasannya, lebih luas dari lapangan sepakbola *ngutip kata-kata pembimbing saya*

    >1. Bagaimana mengatasi salah tangkap antara yang memberi knowledge dan menerima knowledge ? apakah ini masuk bagian KM?

    Yap sepemahaman saya masuk

    >2. Ini yang susah saya kira,bagaimana knowledge yang didapat benar-benar dimanfaatkan oleh yang menerima KM,bagaimana kalau mereka punya pemikiran sendiri?

    Oleh karena itu, perlu akuisisi knowledge yang bagus agar knowledge yang diperoleh itu tepat sasaran. Tidak mudah mengekstraksi pengetahuan yang sifatnya masih tacit alias dimiliki pakar. Sedangkan klo mengekstraksi pengetahuan dari data dan informasi dalam basis data dapat menggunakan teknologi data mining. mmm Moga-moga menjawab

  9. Hay..

    Aku tertarik banget dengan topik kamu tentang KM…
    Dan akupun berpikir, pastinya kamu punya banyak materi yang berhubungan dengan KM..

    Atas nama knowledge sharing, boleh dong berbagi materinya…

    kebetulan saat ini aku juga lagi konsen dengan topik KM, yang berhubungan dengan Pertanian (KM for agriculture)…

    Jadi, sekiranya anda punya materi tentang KM yang berhubungan dengan Pertanian, baik konsep, praktek maupun implementasinya, mohon disharing ya? alamat email sudah saya lampirkan di Inbox di atas kan?

    Thx…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s