Indonesia sudah merdeka tapi saya menderita

Cerita sang penghayal yang berada di angkutan umum

Beberapa minggu yang lalu dalam perjalanan ke kantor, angkot yang saya tumpangi dinaiki oleh seorang pengamen cilik. Awalnya saya tidak tertarik dengan apa yang dia didendangkan bahkan saya sedikit membanding-bandingkan pengamen jakarta tangerang dengan yang ada di Bandung. Kesimpulannya adalah pengamen di Bandung lebih niat daripada pengamen disini dilihat dari cara bernyanyi dan lagu. Namun tulisan ini tidak akan bercerita tentang perbandingan pengamen antar kota.

Akhirnya ketidaktarikan saya terhadap pengamen tersebut tiba-tiba semakin menghilang ketika mendengar sebuah lagu yang keluar dari bibir kering sang adik dimana sebelumnya belum pernah saya dengarkan. Saya tidak ingat lagi bait lagu yang di mainkan oleh sang adik tapi satu kalimat dari lagu tersebut yang masih terngiang-ngiang sampai sekarang di memori otak saya yaitu …………..indonesia sudah merdeka tapi saya menderita……………..
Seketika saya langsung ‘tergelitik’ sekaligus ‘malu’ dengan bait tersebut. Ingin rasanya saya edit kalimat tersebut menjadi “indonesia belum merdeka dan saya menderita” atau “indonesia sudah merdeka dan saya makmur sentosa”
Dari situ, pikiran saya menjelajah kemana-mana.
Akhirnya saya pun tersadarkan dari khayalan ketika mendengar lagu terakhir dari sang adik

sorak-sorak bergembira…
bergembira semua…
sudah bebas negeri kita…
Indonesia merdeka…
………..

Lagu penutup bisa bikin saya tersenyum-senyum sendiri sambil berharap tidak ada yang menganggap saya gila aneh.
Kenapa tersenyum? karena sudah lama lagu itu tidak saya dengarkan. Secara tidak sengaja khayalan saya terbang kembali ke massa-massa waktu di bangku sekolah dasar. Lagu itu adalah salah satu lagu favorit saya. Kemudian khayalan saya terbang lagi ke hari tujuhbelasan yang saya lalui di SD, SMP, dan SMA.

Saat-saat ikut lomba lari kelereng, nyanyi, baca puisi saat tujuhbelasan di SD
saat-saat bersih-bersih kelas, upacara bendera di sekolah, dan menanti upacara penaikan bendera sang Merah Putih di TV saat tujuhbelasan di SMP
saat-saat mendebarkan menjadi pasukan pengibar bendera di sekolah, pasukan 17, pasukan 8 di sekolah, dan momen berharga lain saat mengibarkan bendera di walikota.

Kenangan-kenangan 17 tersebut tidak akan saya lupakan. walaupun sejak kuliah saya merasa tidak banyak memiliki momen yang bisa diceritakan dari tujuhbelasan yang saya rasakan tapi setidaknya saya punya momen yang akan selalu terkenang di angkutan umum tersebut. Saya akan mencoba selalu mengingat lirik lagu sang adik. Semoga nantinya lagu tersebut dapat ter-edit dengan sendirinya dalam keberjalanan waktu ke depan

Makasih lagu-lagunya adik kecil karena menemani khayalan saya dalam perjalanan yang membosankan ini.

5 thoughts on “Indonesia sudah merdeka tapi saya menderita

  1. Say no! for nationalism…

    itu yang dipekikkan temenku… hahaha baru kemaren aja debat panjang ama temen lwt ym ttg rencana MTM bikin acara tujuh belasan. “untuk apa sih acara tujuh belasan, gak guna…”

    Nah, itu sedikit pandangan temenku.

  2. kebanggaan kita akan negeri ini terkadang bisa empowering our soul.. berbuat sesuatu yang bermakna buat negeri dalam kerangka dakwah. Agar negeri ini bisa tersenyum. Agar Islam segera menaungi indahnya pluralitas di negeri kita. Say yes to nationalism!

  3. Hehe…membaca tulisan di atas boleh juga.. nampaknya, seperti itulah realitas kita (baca: Indonesia)… negeri yang penuh paradoks, sarat kontradiksi dan marak konfrontasi…

    jadi punya pikiran aneh… kayaknya kita-kita ini harus meredefinisikan kembali tanggal peringatan hari Proklamasi (Kemerdekaan) bangsa kita… benarkah sejak 62 tahun yang lalu kita telah MERDEKA sebenar-benarnya… Bagi saya, kita akan sangat jarang bisa memperingati “hari kemerdekaan”, sebab apa yang bisa diperingati jika yang akan diperingati BELUM PERNAH TERJADI – BELUM JUGA TERWUJUDKAN???

    *Indonesia (sungguh) BELUM merdeka, sehingga orang-orangnya SUNGGUH (MASIH) SANGAT menderita*….

  4. @helmi: seperti kata k helmi, tergantung bgmn ‘peringatan’ itu dilakukan sesuai dengan proporsi yg adil dan seimbang
    @army: wah setuju banget my, “berbuat sesuatu yg bermakna dalam kerangka dakwah”. makasih ilmu barunya hehehe
    @ahmad: hemmmm gk tau yah kyknya memang selama ini belum ada penjelasan lengkap merdeka seperti apa? syarat maupun batasannya gmn. Tapi yg terpenting bkn itu kali yah, yg pertama menurut saya secara individu kta sudah merasa merdeka gk dalam beraktivitas kta, bebas menentukan apa yg kta ingn kerjakan… kl itu saja blm artinya emang kta2 benar2 msh dijajah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s