Think like computers

Bukan berarti gw marukh *bener gk sih nih tulisannya* banget loh yah,,, ampe hatrick posting tulisan gini. Maklum berhari-hari puasa menulis nih nah ceritanya di tanggal 16 ramadhan ini gw mau berbuka puasa menulis *pemaksaan,,,*.
Gw gak bakal cerita panjang lebar sih cuma lagi-lagi atas dasar kebetulan kemarin gw nemu sebuah quote lucu di buku.
Coba baca sekilas quote di bawah:

The real danger is not that computers will begin to think like men, but that men will begin to think like computers
Sydney J. Harris

Yah, gw yang kesehariaannya selalu berinteraksi dengan komputer menyadari isi dari quote itu mungkin saja terjadi bahkan gw pun merasa terkadang seperti itu.

Bagaimana sih seseorang yang berpikir seperti komputer?
yah klo misalnya seorang manusia berpikir untuk mengerjakan persoalan komputasi yang sangat kompleks dengan menggunakan otaknya sendiri *yaiyalah masa berpikir pake otak orang* artinya itu adalah sebuah kelebihan dan bukan hal yang berbahaya. Kalau memang ada yang seperti itu mungkin sudah saatnya kita istirahatkan komputer kita.

1. Tapi bagaimana bila seorang manusia ternyata hanya bisa mengerti angka 0 atau 1, hanya bisa menentukan yes or no.

2. Bagaimana bila seorang manusia hanya bisa bertindak ketika telah diberi perintah. Hilang Inisiatif !!!

3. Bagaimana bila seorang manusia hanya bisa bekerja bila spesifikasi yang diberikan jelas dengan batasan yang lebih jelas. Tidak kreatif lagi!!!

4. Bagaimana bila seseorang akhirnya malas berpikir atau mengerutkan kening karena berharap ada komputer yang bisa melakukan itu.
Jadilah kami orang-orang yang hanya mau berpikir teknisnya seperti apa? atau algoritmanya seperti apa? Bukan pada maknanya apa (jadi ingat kata-kata bu Putri *_*, apa ini berhubungan ma ‘think like computers’ yah???).
Mungkin bisa digambarkan seperti quote di bawah ini:
Think? Why think! We have computers to do that for us. (Jean Rostand)

5. Bagaimana bila,,,,,,, *bisa ditambahin sendiri*

Yah,, yah,,, bagaimana bila itu terjadi pada kami, manusia-manusia yang “senang” berinteraksi dengan benda mati itu.
Gw pun menyadari kalau poin-poin di atas terkadang gw alami sendiri,,, tidak,,, then, may I think like computers???
Gimana yah,,, coba aja lihat kalau anak IF dikasi tugas pasti hal pertama yang terpikir itu “spesifikasi tugasnya apa?”. Kalau gak salah fenomena itu kayaknya muncul sejak kuliah struktur data yang ada tugas besar nan susyeh itu.
Gw jadi ingat tugas2 RI (Rekayasa Interaksi) yang mungkin satu-satunya tugas kuliah di IF yang gak pernah mencantumkan spesifikasi, karena kita disuruh berpikir kreatif…
mmm, ternyata oh ternyata ada hikmahnya juga walaupun isi tugasnya sering membuat berkerut kening bukan karena kesulitannya tapi karena selain tidak pernah ada spesifikasi tugas dan juga kami diminta observasi hal-hal di luar lingkungan kami misalnya photobox, rumah, mal (hehehehe aneh pisan)
Cukup sekian, inilah akhir dari hattrick goal postinganku, daripada entar gw panjang lebar cerita tentang RI padahal udah OOT.

Tapi tenang aja kok, gak selamanya komputer tuh bagus karena gw juga dapat nih quote bagus juga dan emang benar adanya karena memang kadang-kadang komputer tuh suka ‘sotoy’ (sok tau),,,

Computers make it easier to do a lot of things, but most of the things they make it easier to do don’t need to be done.
Andy Rooney

6 thoughts on “Think like computers

  1. tambahin lagi fit.. SIE.. tugas yang bener2 nggak ada spesifikasinya..
    mau ngerjain apa aja, kita nggak tau.. pokoknya yang jelas ada tuh cuma waktu pengumpulannya doang plus komentar kalo yang dikerjain tuh salah.. tapi kayaknya ini emang bukan masalah kreatif deh.. kreativitas kan dihargai ya..

    bagus-bagus tulisannya..kalo ada nomernya tampak lebih enak ngasih comment-nya😀
    jadi tinggal bilang, aku dah seperti poin ke-…. ^__^
    kalo aku ngerasa mendekati semua ciri di atas kecuali nomer 1..

  2. @ bagoest: bukan, 1 atau 0 tuh kalo ga biner ya boolean. :p

    makanya gw selalu bangga dengan beberapa hal tentang kaderisasi di ITB dimana kita mencoba berpikir tentang esensi, bukan perkara yes atau no aja. tapi kegiatan kemahasiswaan kita makin sepi nih, istilah gw, di kampus ini makin sedikit orang yang mau berkerut kening… . ah, apa sih gw, koq ngelantur gini.😀

  3. @aRul : gw, dan gw yakin beberapa temen gw, termasuk qbl jg, pasti ngerasain udah banyak manusia-manusia yang mulai berfikir kaya komputer, ngga, tepatnya kaya mesin. Soalnya ga cuma komputer kok..

    Awalnya cuma sperti yang dibilang qbl dan fitra, semua cuma mikirin teknisnya aj, nyelesein yes or no nya aja, tapi ga tau esensinya..
    trus bahasanya mulai kribo (:D no offense), ntar misalnya Anto bilang sama Andi “saya pulang!”, Andi bakal jawab, “oh kamu pulang, saya kira kamu anto”
    %^@%$*!%$!%!(*(&^*(

    kalo udah tahap yang ekstrim gimana coba..
    nanti hilanglah sudah inisiastif, ambiguisme, seni, kreatif, dll..

    hehe, kok jadi berat ya ngomongnya.
    :p

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s