teori Musuh Bersama, ah bosan,,,

Ter’inspirasi’ dari beberapa (hampir banyak) teman-teman mahasiswa yang mengungkapkan pendapatnya malam ini di suatu forum yang tak jelas judulnya apa di suatu sudut kampusku tentang kemahasiswaan, kaderisasi, bangsa, rektorat, yah apalah itu yang menjadi masalah baginya. Ada suatu hal yang ‘sangat’ (catet yah penekanannya) mengganggu pikiranku yaitu beberapa pendapat ataupun pandangan bahwa untuk bisa ‘bergerak/bertindak’ ataupun ‘bersama-sama’ kita membutuhkan musuh bersama (catet yah musuh) dan ada pula yang mengartikannya sebagai suatu kondisi yang menyudutkan/menindas.

Dimulai pada awalnya setahun lalu, gw mendengar tentang ‘teori’ musuh bersama itu dan awalnya sih gw sepakat ma pendapat itu. Yah bila dibuktikan emang benar adanya, kalau dulu bangsa Indonesia yang terpisah pulau-pulau bisa bersatu karena ada musuh bersama yaitu penjajah belanda. Trus kemahasiswaan juga bangkit tiap periode tertentu juga karena musuh bersama yaitu pemerintah. Yah, semua masuk di akal gw. Tapi lama-lama gw gemes juga, gw gemes dengerin alasan orang kenapa sih kemahasiswaan sekarang tuh terkesan ‘adem’ karena kita tidak seperti mahasiswa dulu yang memiliki musuh bersama. Gw gemes karena itu tuh dijadikan alasan.

Analoginya sih gini, ketika kita sedang dalam situasi terjepit akhirnya kita mencari alasan dari pihak luar kenapa kita berada dalam situasi itu. Kenapa bukan justru kita ‘look into’ dalam diri kita dulu.

Oke lanjut tentang ‘teori’ tadi,,,

Bahkan ada yang sempat berpendapat bahwa adanya hambatan dari pihak lain (rektorat) menyebabkan kemunduran di kemahasiswaan kita karena tidak bisa mengimplementasi dengan leluasa kaderisasi ‘tempo dulu’ seperti yang menurut gw agak bersifat penindasan. What???

Sayangnya pendapat itu baru muncul di akhir dan itu semakin membuat gw ‘bertanya-tanya’.

Jadi masalahnya apa?

Masalah yang mau gw angkat itu yaitu kecenderungan kita karena sudah menuhankan ‘kaderisasi ITB yang lama’. Bentuk kaderisasi yang menurut gw menganut ‘teori’ yang diatas (punten sekali lagi ini sih pandangan pribadi gw). Banggakah kita kepada bentuk kaderisasi ITB tempo dulu yang katanya sih termasuk salah satu dari tiga kaderisasi terbaik di Indonesia. What??? Hasilnya apa sih, apa sih wujud nyata output dari kaderisasi ITB yg lama itu? Punten, gw bertanya sebenarnya karena gk tau apa sih yang sudah dihasilkan ma kaderisasi ITB yang disanjung-sanjung itu.

Gw sih merasa teori bahwa kita butuh musuh bersama ataupun bahwa bentuk penindasan/tersudutkan itu bagus rasanya perlu dievaluasi lagi deh (alias bener ato gk sih???). Ketika teori itu pertama kali gw dengar yah awalnya emang masuk di akal tapi karena itu udah berkali-kali disebutkan dan dijadikan alasan maka gw takut klo sampai dijadikan pembenaran kita untuk tidak berubah, ah mau jadi apa ITB ini.

Tapi yang bikin gw tambah gemes, kok yah mempengaruhi karakter mahasiswa ITB khususnya PEMIMPIN KEMAHASISWAAN ITB yang terlarut berpikir bahwa kita baru bisa bertindak ketika kita memiliki musuh bersama, ataukah kita harus tertindas dulu sehingga kita bisa melakukan sesuatu. Hello (dengan intonasi Anda-temen kul gw), entah apa logika gw yang aneh, tapi kok klo gw berpikir logis yah itu bukanlah suatu hal yang membanggakan yang perlu terus disanjung-sanjung. Kalau versi kuliah Rekayasa Interaksi, gw memandang itu adalah masalah bukan prospek…

Ini masalah mind set sebenarnya yang moga-moga hanya gw temui di beberapa pihak aja. Moga-moga bukan karakter orang Indonesia pada umumnya.

Moga-moga tidak,,,

Masalahnya apakah kita harus di’sakiti’ secara fisik dulu baru kita bergerak??? Tidak kan,,, harusnya tidak perlu ada ‘penindasan’ itu tapi yang perlu diubah saat ini yaitu ‘kesadaran’.

Memangnya penindasan itu pengaruhnya seburuk apa sih?

Sebenarnya ada sisi positifnya, tapi bukan gw jelaskan disini karena gw takut bahwa ternyata yang kita alami justru sisi negatifnya. Tanpa kita sadari akhirnya penindasan itu seperti candu bagi kita. Kita hanya bisa bergerak ketika kita ditindas atau bahkan kita hanya mau bersama-sama ketika kita memiliki musuh. Ah,,, kenapa sih itu sikap atau sudut pandang itu tidak berubah kawan???

Sederhananya gw suka menganalogikan masalah seperti ini dengan cerita tentang orangtua dan seorang anak.

Pernah ingat gak, masa-masa dimana kita diajarkan oleh orang tua kita untuk salat. Sederhananya tuh gini, coba liat cara yang mana yang lebih baik diterapkan kepada sang anak. Pertama, apakah sang anak harus dikerasi dengan ancaman atau apapun itu sehingga dia mau salat atau bagaimana bila hal yang ditekankan yaitu kesadaran pentingnya salat bagi diri sang anak. Beda pasti hasil yang diperoleh ketika dua metode tersebut diterapkan. Valuenya itu pasti beda. Coba bayangkan deh kalau kita terbiasa untuk dididik dengan cara ancaman ataupun kritikan gitu, hoo kita akan bermental seperti itu juga, berkarakter seperti itu juga. Akhirnya apa, kita sangat bergantung pada pihak luar kita untuk mem-push kita melakukan suatu. Bila akhirnya pihak itu tidak ada bagaimana donk kita?

Yah sulit memang, tapi coba kita telusuri apa sih yang membentuk karakter itu di kehidupan kampus terutama kampusku ini. Yah kalau asumsi saya sih KADERISASI. Kaderisasi kita yang dulu membuat kita hanya bergerak karena adanya penindasan. ‘Penindasan’ pula yang memaksakan kita untuk kompak dan bersatu. Kenapa sih keinginan kompak ataupun bergerak bersama itu tidak muncul dari KESADARAN pribadi kita.

Huff aneh banget gak sih. Coba berpikir secara logis dari sudut pandang gw (hihihiih maksa abis), betapa bodohnya kita, betapa rendahnya karakter kita, hanya mau bertindak ataupun bersama-sama ketika menunggu musuh bersama muncul ataupun tindakan yang menyudutkan itu datang… kalau gw sih melihat pengaruhnya udah gk sehat lagi nih di mental-mental mahasiswa (wahahaha definitely pendapat pribadi)

Ah ini hanya soal sudut pandang saja (penekanan pada kata saja),,, kalau kita sadar harapannya kita tidak menunggu musuh bersama itu muncul untuk kita mau bergerak bersama-sama, kita tidak menunggu agar pihak lain untuk lebih menindas kita secara fisik. Kita mulai sekarang karena kita sadar kalau kita butuh, udah jelas-jelas perubahan sedang menuntun kita masa kok yah kita tidak berubah juga.

Butuh restart pemikiran kali yah, jamannya sudah beda, udah jelas tantangannya beda. Ya jelas donk kita harus berubah dan kalau berubah jangan setengah-setengah,,, dan jangan tanggung-tanggung,,,

Ya sudahlah, berhenti ngomongin kaderisasi karena gw pun bukan ahlinya. Yay tulisan ini pun dibwt untuk memberikan pencerahan bwt pribadi gw. yay, need other opinions.  Gimana mau jadi ahli klo yg gw ingat tentang kaderisasi tuh hanya bahwa OSKM ‘menyadarkan’ gw untuk kontribusi dan PAB HMIF ‘menyadarkan’ gw untuk kompak satu angkatan. yah mungkin itu doank ingatanku tapi masalahnya mungkin kaderisasi bukan tentang itu. Entah siapa yang bisa menjawab. siapa pun itu, ayo-ayo sudah berhenti keseringan melihat ke belakang, yakinlah apa yang sudah kita alami selama ini dan ayo maju coba lukiskan masa depan kita sendiri.

9 thoughts on “teori Musuh Bersama, ah bosan,,,

  1. Haha.. teori musuh bersama. IMHO, dah gak jamannya lagi ah..

    Apalagi, nantinya disangkut-pautkan dengan “Pendidikan Kaum Tertindas” karya Paulo Freire. Uh, klo ‘diterapkan’ di itb saat ini sepertinya malah jadi “Penindasan Kaum Terdidik”.😛

    Gw setuju sama loe masalah dasar kaderisasi sebaiknya tentang kesadaran, bukan penindasan🙂

    Btw,

    Banggakah kita kepada bentuk kaderisasi ITB tempo dulu yang katanya sih termasuk salah satu dari tiga kaderisasi terbaik di Indonesia.

    Eh, tiga ini tuh militer, pki, n itb ya?? [cmiiw]
    Referensi klaim ini dari mana sih??

  2. huahaha betul,, betul banget,, perlu mengubah mind set tentang kaderisasi.

    iya tuh tiba2 jg gw penasaran itu klaim siapa,,
    tadi malam ada yg ngomong gitu lagi. pertama kali gw denger klaim itu waktu diklat OSKM 2005 kita :D…
    referensinya emang gk tau tuh darimana,,, lewat penelitian yg valid ato gk tuh hihihihi

  3. Yah.., semuannya memang ‘berawal dari mimpi’. Menurutku kita dapat bergerak bersama karena mimpi atau cita2 yang sama, ataupun karena irisannya.

    Contoh ya.., anak2 baru mau2nya di OS. Kenapa?. Mungkin, karena dari banyak keinginan mereka, ada irisan mimpi yang dipunyai. Yaitu bisa pake jaket himpunan bersama, dan keluar dari segala ‘rutinitas OS yang melelahkan’.

    Sama dengan musuh bersama ketika nusantara dijajah belanda. Mereka mempunyai mimpi bersama keluar dari keterpurukan dan penindasan bangsa asing.
    Sama juga dengan negara eropa, yang mau bersatu membentuk uni-eropa bahkan dimulai sejak bangsa celt. Dengan mimpi yang sama sebagai suatu bangsa. Bangsa EROPA.

    Nah, sekarang pertanyaannya adalah: bagaimana memunculkan mimpi bersama?. Bisa dipaksa dengan memunculkan sosok musuh, pencerahan melalui penanaman nila, ataupun dengan keikhlasan bahwa semuanya datang bersekutu untuk berkomitmen mewujudkan mimpi bersama.

    Tapi semua itu tentu memerlukan ‘leader’ untuk meng-komandani mimpi apapun.

  4. @helmi: hehehe, pintar ngubah sudut pandangnya aja, musuh jadi mimpi yah,,, sepakat😀 ,,, btw, pertama kali sy dgr ttg teori musuh bersama itu dari k helmi loh hiihihihihihi

    @vend: huehehhe, btw selamat krn dah gk jd mhs lagi hihihhihi

    @Grak: jd gmn mas setuju ato gk😀

  5. Yah.. kadang2 orang terlalu memaksakan kebersamaan ketika kadang2 individualitas gak ada salahnya juga kan… bahkan kadang2 merupakan pilihan terbaik. I don’t believe in the whole ‘bersama kita bisa’ ketika semua org2 terlalu banyak ribut memperdebatkan cara kita menjadi ‘sama’ dan apa arti ‘sama’. mending gw melangkah sendiri dulu deh daripada jadi telat krn nunggu yang lain!

  6. aih,,, tulisan ini setelah gw baca lagi,,, rasanya hampir sama dengan obrolanku dgn seorang teman…
    fenomena sama yg kita bicarakan…
    tapi kesimpulannya justru lebih global,,,
    bukan pada pandangan tentang musuh bersama saja mgkn, bisa saja ternyata ada yg salah dgn karakter/mental kita selama ini. Dan mungkin saja bukan hanya karena kaderisasi di ITB, tapi mgkn krn hasil pendidikan kita sejak kecil…
    yah itu mungkin,,,
    terlepas,, apapun penyebabnya,,,
    ayo,, kita berubah,,, jgn cari kambing hitam lagi karena mungkin itu menunjukkan kita tidak bisa berubah,,,

    @danasatriya: yah aq jg speechless baca tulisan ini lagi,,, gk nyadar sebenarnya nulis begini wahahaha
    @mahardhikasadjad: yup, sepakat ma pendapat dhika bila tulisan ini dilihat dari pandangan kta harus bergerak bersama-sama. Dan memang terkadang kta tdk sebaiknya menunggu, utk memaksa org bergerak bersama2 kta bisa saja kta maju duluan dan biarkan org lain sadar bahwa dia ketinggalan hahahaha… Soalnya terkadang keinginan itu muncul dari dalam diri…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s