Moga bunda disayang Allah

Kalau ditanyakan anugrah terbesar yang kumiliki maka akan kujawab memiliki kedua orang tua utuh seperti saat ini khususnya ibu yang hebat seperti beliau

Kalau ditanyakan kenikmatan terbesar yang kurasakan selama ini maka akan kujawab bagaimana aku dibesarkan dari tangan seorang ibu seperti ibuku

Kalau ditanyakan siapa wanita, pahlawan, dokter, dan guru paling berjasa di hidupku maka aku akan menjawab pertama yaitu ibuku

Kalau ditanyakan siapa orang pertama yang ingin kamu bahagiakan di dunia ini maka aku pun akan menjawab ibuku

Waktu kecil, kalau ditanyakan siapa orang paling hebat sempurna di mataku maka aku hanya punya satu jawabannya yaitu ibuku

 

Teringat masa ketika aku duduk di bangku sekolah dasar. Saat kelas 5 SD aku memperoleh pekerjaan rumah diminta untuk menceritakan siapa idolaku. Pulang sekolah, segera kukerjakan pekerjaan rumah itu, yah aku begitu excited untuk mengerjakannya. Sejak dulu saat aku telah hapal banyak tokoh-tokoh dunia bahkan menteri-menteri dari buku pintar maupun artis-artis di TV, bagiku tokoh idolaku selalu dari dulu adalah Ibuku. Dalam pikiranku sudah beribu alasan yang ingin kutuliskan di bukuku untuk menceritakan bahwa ibuku adalah seorang idola yang tidak kalah dari tokoh-tokoh tersebut bahkan bagiku ibukulah yang terhebat.

Toko idolaku adalah Ibuku, Caya Khairani. Beliau adalah seorang pegawai negeri yang mendedikasikan hidupnya menjadi ibu rumah tangga yang sangat ulet. Beliau adalah wanita minang yang soleh dan patuh. Kepatuhan terhadap agama kupelajari dari beliau. Bagaimana kami anaknya sekarang bisa berhasil dalam setiap hal adalah hasil dari doa-doa di salat malamnya. Beliau adalah wanita yang cerdas, pintar masak bahkan di keluarga ayahku masakan ibuku terkenal paling enak. Beliau juga wanita yang cukup sensitif ketika menonton suatu suatu pemandangan yang menyedihkan tentang kemanusiaan di televisi terkadang beliau tidak bisa menahan air matanya walaupun ketika kami sedang nonton bersamanya. Atas segala kelebihan dan kekurangannya, beliau adalah wanita yang sempurna di mataku.

Bagiku ibuku adalah wanita yang serba bisa. Segalanya beliau bisa lakukan untukku. Alasan utama yang membuatku sangat kagum kepada beliau yaitu bagaimana dia bisa berperan optimal sebagai ibu rumah tangga, guruku di rumah, istri yang saleh, sekaligus bekerja di kantor. Di rumah beliau benar-benar adalah seorang ibu tapi di sisi lain beliau memberikan contoh bagaimana bisa bekerja di luar rumah tanpa meninggalkan profesi utamanya. Walaupun beliau bekerja namun aku tidak pernah sama sekali merasa kehilangan fungsi beliau sebagai ibu rumah tangga. Oleh karena itu, aku sangat mendukung beliau atas pekerjaannya. Bahkan bila beliau dikirim keluar kota dan harus meninggalkan kami adalah kebahagiaan bagi aku karena selalu setelah pulang dari luar kota beliau pasti membawakan banyak oleh-oleh untukku dan adikku.

Bagaimana beliau berperan sebagai ibu rumah tangga kurasakan sejak pagi hingga malam kutidur. Sama sekali tidak ada kekurangan dalam peran yang dia lakukan. Pagi hari beliau selalu bangun lebih dulu untuk mempersiapkan makan pagi untuk keluarganya dan kemudian membangunkan anak-anaknya. Terkadang karena aku malas bangun, harum masakannya justru yang bisa membangunkanku. Yah, beliau sangat pintar memasak terlebih memasak makanan kesukaan keluarganya. Masakan kesukaanku pun selalu menjadi menu andalan makan pagi kami. Masakan pagi yang dimasak oleh beliau adalah suntikan energi terbesar bagi kami sekeluarga untuk beraktivitas sehari. Oleh karena itu, baginya memasak makan pagi haruslah spesial bukan memasak makan sisa semalam tapi bener-bener masak sayur baru, lauk baru. Bagiku pun akhirnya makan pagi adalah makanan yang selalu kutunggu-tunggu. Di siang hari karena jam pulang kantor biasanya jam 2 maka terkadang bukan beliau yang masak, biasanya orang rumah yang masak lauk yang sudah dibumbui oleh ibuku.

Bagiku kedatangan orang tuaku dari kantor adalah saat-saat menyenangkan terlebih ibuku karena mereka terkadang suka membawakan sesuatu untuk kami. Waktu kecil pun menunggu kedatangan ibu dari kantor adalah saat ketika aku ingin bertanya tentang pekerjaan rumahku. Aku selalu mengingat suatu momen yang berhubungan dengan kebiasaan itu dan paling mempengaruhi hidupku. Suatu hari ketika aku duduk di kelas 4 SD dan memperoleh nilai jelek dalam ulangan matematikaku, saat itu matematika bukanlah pelajaran yang sangat kusukai dan juga tidak kubenci. Yang kusadari adalah ibuku adalah guru matematika bagiku dan bila aku tidak tahu maka aku tinggal bertanya kepadanya. Siang itu ketika beliau sampai di rumah, segera kuceritakan tentang hasil ujianku dan bagaimana itu akan mempengaruhi keseluruhan nilaiku (yah itu bisa mempengaruhi rankingku tentunya yang kebetulan biasanya menjadi yang terbaik). Aku meminta diajarkan kembali isi ujianku agar tidak mengulangi lagi. Hal yang paling kuingat setelah ibuku mengajarkanku beliau bercerita kenapa waktu kecil beliau suka dengan matematika karena “matematika justru pelajaran yang mudah karena setiap pertanyaan pasti memiliki hasil yang pasti, kita tidak perlu bingung untuk memikirkan jawabannya, kita hanya perlu berhitung untuk itu” yah kalimat itu masih selalu membekas hingga ketika SMA aku pernah diwawancara oleh suatu harian kota Makassar tentang prestasiku di bidang itu dan aku pun menceritakan tentang pengalaman kecil yang sangat mempengaruhiku itu. Namun, sebenarnya pengalaman ibuku itu tidak hanya mempengaruhiku atas kesukaan terhadap matematika namun juga sempat membuatku tidak tertarik dengan bahasa indonesia. Tanya kenapa? Karena kalimat ibuku tidak berhenti disitu saja, lanjutannya “jadi kalau mau tanya tentang matematika ke mama saja, tapi kalau bahasa Indonesia jangan tanya mama karena berbeda dengan matematika, jawabannya tidak pasti dan mama kurang tahu tentang itu”. Wuaaa kalimat itu cukup sukses mengarahkan ketidaksukaanku pada bahasa Indonesia tapi untungnya aku memiliki teman-teman SMP yang suka membaca buku-buku dari sastra (kahlil gibran), novel, sampai komik. Yah itu cukup mempengaruhiku.

Kembali ke ibuku, pulang kantor adalah waktu istirahat yang dihabiskan bersama keluarganya. Kadang beliau mengajakku untuk tidur siang bersama. Saat-saat itulah ketika beliau bercerita tentang kebiasanku dan adikku waktu kecil misalnya ketika aku tidak mau tidur siang tapi akhirnya bisa karena dielus-elus oleh ibuku. Atau terkadang, saat-saat itu dihabiskan untuk bercanda bersama di tempat tidur (yah itu masa-masa SD-SMP sebelum sore hariku diisi dengan kesibukan les). Sore hari adalah waktu untuk memasak makan malam bagi beliau. Pada saat bulan puasa, momen memasak makanan buka puasa adalah yang paling kutunggu-tunggu. Biasanya aku suka minta dimasakan makanan tertentu terus dengan niat ingin membantu tapi waktu kecil sayangnya biasanya ditengah-tengah aku malah bermain ke sebelah rumah dan ketika aku kembali semua sudah jadi. Perfect!!! Terkadang aku bingung ingin membantu karena biasanya ada orang lain yang membantu ibu.

Puasa kemarin berbeda dari yang sebelumnya karena seingatku sangat jarang tidak ada orang yang membantu ibuku mengurus rumah baik itu pembantu atau tante yang tinggal di rumah. Padahal dapur rumahku harus menghasilkan masakan berbuka puasa untuk orang rumah plus pekerja di swalayan dekat rumahku (porsi besar). Kebetulan sebulan terakhir sebelum puasa kemarin, mbak yang biasa membantu ibuku akhirnya berhenti bekerja karena harus menikah dan akhirnya ibuku sendiri yang memasak. Bayangkan makanan yang harus dimasak dalam porsi yang besar dan itu dikerjakan oleh ibuku. Seperti biasa setiap sore di bulan ramadhan adalah waktuku untuk menemani ibuku di dapur tapi bedanya kemarin hanya kami berdua walaupun terkadang bila nenekku menginap di rumah beliau juga ikut membantu. Nah tapi ada atau tidak adanya aku di dapur kadang menurutku tidak berpengaruh besar. Dibantu orang atau tidak, ibuku sebenarnya bisa menyelesaikannya sendiri, Amazing… Entah kenapa ketika melihat ibuku memasak, kelihatannya memasak berbagai jenis dengan ukuran yang banyak bukan pekerjaan yang sulit baginya (mungkin karena terbiasa). Tidak pernah ada keriwehan ataupun keluhan yang keluar dari mulutnya. Padahal secara pribadi aku kagum pekerjaan dapur itu bisa beres dalam sekejap. Yah,,, itulah keahlian ibuku, ketika beliau di dapur, aku melihat tipe pekerja kerasnya. Wuih, makanya jangan heran karena tidak pernah melihat ibuku kesulitan dalam memasak, bagiku pun memasak bukan hal yang sulit *hahaha pdhl itukan ibuku😀 *. Yah, secara teori, menurutku memang setiap orang pasti bisa memasak, tergantung bagaimana dia membiasakannya.

Malam hari adalah waktu buat ibuku untuk mengajak adikku belajar. Kebetulan minat belajar adikku mesti diarahkan dulu. Waktu masih kecil, setelah makan malam pun biasanya adalah waktuku untuk tidur di pangkuan ibuku. Yah, waktu kecil keliatannya aku cukup manja *tidak banyak berubah sih saat dewasa :p *. Yang paling berkesan adalah ketika aku harus begadang menyelesaikan tugas rumahku, ibuku pasti menemaniku. Bahkan ketika aku bandel menonton sampai malam, biasanya ibuku selalu terbangun dan memintaku segera tidur.

Hubungan dengan ibuku tidak selamanya berjalan baik. Aku pun pernah mengalami masa-masa masuk usia remaja dimana sulit untuk nyambung dengan beliau. Masa adaptasi ketika tidak terbiasa tinggal dengan orang tua. Tapi itulah beliau, doa, kesabaran, dan pengorbanannya bisa mengalahkan segalanya. Masa transisi itu bisa kulewati sehingga sekarang aku pun berusaha selalu menjadi anak baik baginya dan bisa dengan mudah bercerita banyak dengannya. Yah, sepesat apapun perkembangan diriku, sejauh apapun jarak yang memisahkan kami, beliau selalu sabar untuk berperan menjadi ibu bagiku.

Hal yang selalu aku ingat dari ibuku adalah ketika aku sakit, beliau selalu ada di sampingku. Herannya, hal ini masih selalu terjadi hingga saat ketika aku harus berpisah dengannya. Hal yang paling aku suka yaitu bila anak-anaknya demam maka ibuku selalu mendekatkan tubuhnya pada kami dan berharap demam anaknya akan pindah kepadanya. Ketika anaknya sakit apapun akan beliau lakukan agar kami sembuh, dari memasakkan makanan yang kami inginkan atau bahkan harus bolos kerja untuk menemani kami. Bahkan ketika SMA, ketika aku masuk rumah sakit, ibuku langsung terbang dari palu-makassar. Ah, makanya terkadang sangat tidak enak rasanya ketika sakit karena aku pasti merepotkan ibuku. Karena pasti beliau akan mengorbankan pekerjaannya untuk merawatku. Anehnya ketika kuliah, kebetulan hampir di saat aku sakit (termasuk ketika setahun yang lalu aku masuk rumah sakit) selalu ketika ibuku sedang berada di Bogor untuk urusan pekerjaan sehingga terkadang dengan mudah beliau bisa segera datang menemuiku. Banyak kemudahan yang selalu dihadapi oleh ibuku untuk bisa merawat anaknya. Yah beliau adalah pahlawan yang selalu menyelamatkanku. Bahkan di ulang tahunku barusan. Andaikan ibuku tidak datang di malam tanggal 14 november pasti demamku yang tinggi tidak akan turun saat hari ulang tahunku. She always knows how to treat me when I’m sick more than doctor can do to me. Oleh karena itu, sejak kecil di mataku pun beliau adalah dokter. Bahkan pernah kupikir beliau pernah belajar tentang kesehatan waktu kuliah karena pengetahuan beliau yang luas tentang kesehatan. Yah beliau memang pintar dan serba tahu.

Yah itulah ibuku seorang wanita salehah, istri yang patuh, ibu yang sangat sayang kepada anaknya dan pintar memasak, guru bagi anaknya, dan juga pegawai yang berpengaruh di kantornya. Yah keahliannya itu yang selalu kebanggakan dari beliau. Hal terpenting yang kunikmati selama 20 tahun usiaku yaitu pengorbanannya. Yah beliau juga yang memperlihatkan padaku arti pengorbanan. Beliau telah mengorbankan hidupnya selalu untuk anak dan suaminya.

Pengalaman beliau dalam menuntut pelajaran dari kecil hingga besar menginspirasiku. Bagaimana beliau harus berpisah dengan orang tua sejak SMA dan berhasil kuliah walaupun dari latar belakang keluarga yang pas-pasan membuatku sangat kagum pada ibuku. Bagaimana beliau begitu mandiri dalam hidupnya membuatnya begitu sempurna di mataku.

Kalau Hari ini adalah Hari Ibu, berbeda bagiku karena kemarin adalah hari ibu bagiku. Yah tepat tanggal 21 Desember adalah tanggal kelahiran ibuku. Tahun ini ibuku telah berusia 50 tahun. Rasanya sedih, membayangkan beliau telah setua itu namun aku belum memberikan apa-apa kepadanya. Yah, aku masih sangat menikmati segala perhatian yang diberikan olehnya. Ketika aku memberi ucapan selamat kepadanya, beliau pun membalasnya dengan kalimat yang membuatku terenyuh dan makin sayang kepadanya

“Terima kasih nak,,,,,, tidak terasa sdh 50 thn mama tapi jika melihat anak2 mama waktu 50thn tidak sia-sia. Semoga di sisa hdp mama ini msh bisa berbuat utk anak suami keluarga dan org lain. Amin”

Ya Rabb, jadikan aku anak yang Shaleh hanya dengan itu aku bisa membahagiankan Bundaku.

Selamat ulang tahun, Moga bunda disayang Allah,,,

12 thoughts on “Moga bunda disayang Allah

  1. tulisan yang bagus & menyentuh…
    I love my Mom too..
    Beliau juga pahlawan bagiku..
    Thanks ya.. Fitrasari..
    tulisannya menyejukkan..
    Salam buat mama-nya.. Smg beliau sehat & bahagia selalu..

  2. @raizamn: makasih… bersabar yah soalnya terpisahkan berapa benua dengan ibu😛.. tenang doa ibu menyertaimu nak😛 *loh berasa jd ibunya k raiza hihi*

    @oliveoile: yeah so do I ,,, kyknya hampir semua anak gitu😀

    @defindal: gak papa.,,, gak usah jaim wakakaka

    @EstiL makasih yah esti,, alhamdulillah terima kasih bila menyejukkan,, salam buat mama Esti juga yah😉

  3. Ping-balik: Moga Mamah Disayang ALLAH « Prayudii's Blog

  4. terharuuuuuu saya jadi lebih menyadari betapa berartinya seorang bunda
    maafkan aku bun yang tak pernah bisa membuatmu bangga aku begitu menyayangimu
    I LOVE MOM ALWAYS

  5. Ping-balik: Blog ParcelBuku.Com » Blog Archive » Moga bunda disayang Allah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s