Tari poco-poco digunakan pada ajang kampanye di Amerika Serikat

Kampanye,, dan kampanye,,,
Kampanye apa coba maksudnya?
Terinspirasi dari suatu topik di suatu acara berita sore di salah satu stasiun TV swasta R**I di negeri ini, yah tumben-tumbenan saya bisa nonton berita sore.
Salah satu berita sore ini berjudul “mungkinkah tari poco-poco digunakan pada ajang kampanye di Amerika Serikat“. Menarik bukan judulnya?
Kalau yang Anda bayangkan bahwa kampanye Barack Obama menggunakan tari poco-poco secara beliau memiliki latar belakang khusus dengan negara ini berarti sama seperti asumsi yang sempat kupikirkan.
Namun ketika akhirnya berita tersebut disampaikan asumsi saya terpatahkan…
Berita tersebut ternyata bukan menyoroti tentang kampanye yang sedang berjalan di Amerika Serikat sekarang apalagi yang sedang heboh yaitu perebutan kursi capres dari partai Demokrat antara Obama dan Hillary.

Berita ini menyoroti bagaimana metode kampanye ada di Indonesia khususnya yang dulu digunakan oleh mantan-mantan capres Pemilu Indonesia 2004. Diperlihatkan rekaman kampanye dari Bu M**a yang berkampanye sekaligus beryel-yel, kemudian Pak W*****o yang berkampanye sekaligus nyanyi dan joget dangdut serta tentunya presiden kita sekarang yang dulu berkampanye sekaligus nari poco-poco..
Beritanya tidak hanya sampai disitu…
Setelah mereview metode-metode kampanye yang ada di Indonesia kemudian dibandingkan dengan nuansa kampanye di Amerika Serikat yaitu ketika Barack Obama berpidato saat super tuesday. Bagaimana isi pidatonya cukup berbobot dan bersahaja *alah bahasanya* tapi setidaknya cukup kebanting juga dengan metode kampanye yang sang calon joget sambil nyanyi dangdut *plus ada penyanyi dangdut wanita tentunya @ @*
Akhirnya berita ini pun menyampaikan bagaimana perbedaan metode kampanye di Indonesia yang menonjolkan Figur dari calon sehingga terkadang pemilih Indonesia tidak begitu mengetahui visi yang dibawa oleh calon. Hal tersebut berbanding terbalik dengan kampanye di Amerika yang menekankan pada konten yang dibawa oleh sang calon *ini kata berita loh*.

Banyak yang bilang bahwa kecenderungan masyarakat Indonesia tuh memilih orang melalui figurnya. Pertanyaannya bisa dikembalikan kepada calon, bagaimana caranya masyarakat tidak memilih seseorang berdasarkan figurnya kalau kampanye adalah ajang tim sukses untuk menjual ‘sosok‘ sang calon bukannya pemikirannya. Contoh yang namanya menjual yah misalnya ada seorang calon pemimpin yang digambarkan sebagai orang yang dekat dengan masyarakat terus berasal dari suku tertentu (khususnya untuk pilkada). Padahal sebenarnya hal tersebut lebih terbukti bila kita menelusuri track recordnya terdahulu benar tidak dekat dengan semua masyarakat.
Jadi bagaimana sebaiknya seseorang mengkampanyekan dirinya yaitu dengan menonjolkan pada cita-cita/visi/tujuan yang dia bawa dan tidak perlu capek-capek mengkampanyekan diri calon bahwa calon bisa bernyanyi, bisa berjoget, dll.
Seperti peribahasa tidak ada asap apabila tidak ada api *nyambung gk yah*, jadi pemilih pun harus pintar untuk tidak tertipu dengan metode kampanye yang tidak cerdas tersebut *malah cenderung boros biasanya*. Untuk mengenali personal seorang calon harusnya bisa ditelusuri dari track record pekerjaan atau pengalaman calon sebelumnya. Dia bersih ataupun kompeten yah dapat kita nilai dari track record hasil kerjanya terdahulu. Dengan demikian, kampanye yang dilakukan pun tinggal memfokuskan bagaimana si calon menyampaikan cita-cita/visi misinya supaya ketika dia terpilih pun masyarakat sudah mengerti tujuan dari calon tersebut. Akhirnya kampanye bukan menjadi ajang menghambur-hamburkan uang belaka *ujung-ujungnya duit😉 *
Konsekuensinya berarti pemilih yang cerdas harus kritis dan aktif mengenali sang calon bukan hanya dari sebuah media kampanye yang biasa hanya berupa kedok belaka.

Wuah, saya sebagai penonton berita sangat antusias menonton berita seperti ini, yah sekali-kali perlu juga diingatkan masyarakat hal beginian, akhirnya ada juga berita yang ‘adil’. Setelah nonton berita itu saya jadi menarik kembali pandangan saya yang sempat tidak percaya dengan acara berita Indonesia yang kadang-kadang tidak netral dan terkontaminasi acara infotainment *hahaha tanya kenapa?*.
Sayang seribu sayang beberapa saat kemudian ketika saya mengganti dengan saluran TV lain yang ada acara berita sore juga, tau gak apa beritanya, ternyata tentang hari valentine wuahaha,, kurang informatif, coba bayangkan untuk acara berita resmi dengan isi berita sehubungan dengan apa itu valentine.
mmm Jadi pengen tahu bagaimana menjadi seorang penonton yang cerdas bisa kritis menyaring informasi yang diterima…

5 thoughts on “Tari poco-poco digunakan pada ajang kampanye di Amerika Serikat

  1. saya baca tadi di detik.com
    kampanye capres pas pemilu 2004 juga mendapatkan kritikan dari menteri pendidikan Malaysia, berikut kutipannya:
    Kuala Lumpur – Malaysia sebentar lagi akan menggelar Pemilihan Umum. Bagaimana pandangan mereka terhadap Pemilu di Indonesia? Ternyata mereka mempunyai persepsi yang sangat sederhana tentang Pemilu Indonesia.

    “Di Indonesia calonnya harus bisa bernyanyi. Di Malaysia tidak, kami harus turun dari rumah ke rumah untuk meyakinkan rakyat agar memilih kami,” seloroh anggota parlemen Malaysia dari Kelantan, Dato Mustofa Mohammed dalam dialog dengan wartawan Indonesia yang mengikuti Malaysia Internasional Visitors’ Programme di Kantor Kementerian Malaysia, Putrajaya, Selasa (13/2/2008).

    Sekitar 20 wartawan Indonesia yang mengikuti dialog itu pun langsung dibuat mesem-mesem. Dalam Pemilu 2004 lalu, sejumlah calon presiden memang seperti berlomba bernyanyi. SBY terkenal dengan lagu “Pelangi di Matamu saat berkampanye. Amien Rais mengeluarkan album campur sari. Megawati berlatif vokal khusus untuk bisa bernyanyi.

  2. Hihi… Lucu juga…
    Tapi emang semuanya tergantung taraf pendidikan masyarakatnya juga sih… Kenyataannya emang gitu realita indonesia… masih liat tampilan luar… dan kadang itu juga yang dimanfaatin banget buat narik dukungan massa. Ada yang kampanye bawa-bawa kumis lah… ato gender segala…
    Intinya sih balik lagi ke pencerdasan masyarakat… gimana dengan KM ITB?

  3. @Deri: berita tentang metode kampanye ini byk muncul krn RUU PEMILU 2009 gk kunjung selesai heheheh

    @ardee’est thing in my life: nah bgmn dgn KM ITB…
    K ardian selaku promotor mgkn bsa mengarahkan spy bsa lebih cerdas kampanyenya😀
    mmm,,, kita liat saja,,, klo mahasiswa ITB aja yg notabene katanya org2 pintar Indonesia seperti itu,, berarti PEMILU 2009 pun gk akan jauh beda hahaha…

  4. yah, begitulah keadaan masyarakat politik indonesia….

    (^_^)v

    beda lagi ama di pakistan. ga da hura-hura. kampanye itu seperti khutbah yang panjang dan menjemukan, tapi rakyatnya haus politik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s