Menonton dengan Hati

“Menonton dengan hati” itulah kalimat yang terdapat di halaman pertama buku K!ck Andy yang baru saja diluncurkan sekitar sebulan yang lalu. Awalnya secara tidak sengaja dan tidak niat saya memperoleh buku ini. Kebetulan isi buku ini merangkum beberapa episode yang pernah ditayangkan di acara Kick Andy yang mungkin telah saya tonton. Namun, ternyata setelah membaca buku ini saya memperoleh banyak hikmah dan kenikmatan yang tidak kalah daripada menonton acaranya. Hal yang menarik bagi saya adalah ternyata membaca bukunya lebih menarik dibandingkan menonton acaranya. Jujur saja sebagian besar kisah yang tertuang di buku ini tidak pernah saya nonton secara full time dengan alasan karena tidak sempat, sengaja atau malah ketiduran. Terkadang saya hanya mengikuti acara Kick Andy yang menampilkan tokoh-tokoh ternama dan populer.

Dengan membaca kisah-kisah inspirasional yang diangkat di buku ini membuat saya mencoba menyelami apa makna “menonton dengan hati” yang ingin disampaikan oleh tim Kick Andy. Bagaimana tim kick andy mengangkat kisah sedih, inspiratif, hingga fenomenal yang mengajarkan saya melihat suatu fenomena dari dua sisi, positif maupun negatif, baik dan buruknya. Good Work buat tim Kick Andy yang sudah melahirkan ide-ide menarik untuk setiap episode yang diangkat oleh acara Kick Andy dan juga Good Writing untuk penulis buku ini. Hal yang menarik, tidak hanya bisa tersentuh dengan menonton acara Kick Andy tapi juga dengan membaca buku ini saya juga bisa sangat tersentuh sekali…

Semoga someday saya bisa memberikan suguhan tulisan inspiratif seperti Buku ini buat masyarakat Indonesia ^_^

6 thoughts on “Menonton dengan Hati

  1. Halo Fitrasani
    Terimakasih ya atas ulasan Anda tentang buku ‘Kick Andy-Kumpulan Kisah Inspiratif’ yang saya tulis. Saya jadi benar-benar tersanjung nih dan memotivasi saya untuk lebih kreatif dan berprestasi.

    Sungguh, saya sangat senang dengan tulisan Anda di blog ini, sebab apa yang Anda tulis, bayangan atau mimpi saya, ya seperti itulah. Saat menulis saya berusaha bagaimana supaya pembaca punya fantasi tersendiri tentang kisah yang saya tulis.

    Itulah kelebihan bahasa tulis dan lisan. Dengan membaca, kita bisa bayangkan seperti apa suasana pada zaman Jepang dalam kasus jugun ianfu misalnya. Sementara kalau kita melihat tayangannya, fokus kita hanya kepada orangnya di layar kaca pada saat itu dan tidak bisa mengarahkan pikiran kita ke masa itu.

    Dengan membaca kita bisa menjadi ‘sutradara’ atas peristiwa atau ‘video’ yang kita buat sendiri. Asyik, kan?

    OK, itu saja komentar saya, terimakasih. Sukses untuk Anda.

    Gantyo Koespradono
    Email: gantyo@mediaindonesia.co.id

  2. @alif: wah pujiannya bisa disampaikan langsung ke mas gantyo

    @gantyo: wah saya jg tdk menyangka akan dikunjungi ma penulisnya langsung… kapan bisa menimba ilmu menulis dengan hati dari mas gantyo😉

  3. Menulis itu gampang, kok asal ada kemauan. Bukankah semua karya tulis, entah itu novel, cerpen, bahkan berita ditulis dengan hati? Menulis di blog juga cara ampuh untuk berlatih menulis dengan hati. Sumber atau bahan tulisan bisa diambil dari mana saja di saat kita merenung, saat kita membaca surat kabar, menonton televisi, atau melihat tingkah laku orang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s