Selamatkan nilai luhur bangsa dari bahaya pornografi

Kepada yth,
Ir. Jero Wacik
Menteri Kebudayaan dan Pariwisata
Republik Indonesia
Di Jl. Merdeka Barat No. 16
Jakarta Pusat

Dengan hormat,

Manisnya apel demokrasi, buah dari reformasi yang sejak sepuluh tahun tahun lalu digulirkan, menimbulkan berbagai macam ekses di masyarakat, baik yang negatif maupun yang positif. Kekhawatiran banyak orang pasca lengsernya presiden Suharto tahun 1998 terhadap kebebasan informasi yang tampil dengan berbagai wajahnya juga terbukti sudah. Dalam masyarakat, euforia reformasi ini ditandai dengan ditabuhnya genderang liberalisasi media; bahwa kebebasan menjadi benar-benar tak terbatas, dan seketika itu juga terdapat penyelinap yang memanfaatkan kesempatan. Dialah ideologi kapitalisme yang berdiri kokoh menyokong industri pornografi yang dengan segala kelicikannya mengemas dengan berbagai label yang memukau, memakai topeng, dengan media sebagai tunggangan. Dengan keuntungan sekitar 7 milyar USD pertahun, mereka dengan sigap akan membelit dengan ganasnya laksana gurita raksasa. Tentakelnya antara lain, media cetak, televisi, internet, handphone, film layar lebar di bioskop maupun yang dicetak di dalam kepingan VCD/DVD.

Saat ini, dalam industri hiburan di Indonesia, film menjadi salah satu primadona masyarakat. Sederhana saja, karena film memiliki kekuatan komunikasi visual, yang secara alami merupakan media penyampai pesan yang luar biasa kuat terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam film bersangkutan. Sejatinya, film-film tersebut (terutama film Indonesia) haruslah menyampaikan pesan nilai-nilai positif dalam membangun kehidupan masyarakat demi tercapainya peradaban manusia yang lebih tinggi. Nilai-nilai luhur bangsa, prinsip dan filosofi hidup dalam masyarakat yang beradab haruslah menjadi referensi utama dalam setiap pembuatan film. Tidak hanya itu, film juga kemudian harus menjadi sarana edukasi bagi setiap penontonnya. Sehingga, dapat dipastikan, setiap hal yang di-‘kampanye’kan dalam film, akan masuk kedalam memori penonton dan menjadi dasar dalam pembentukan perilaku masyarakat yang menontonnya.

Kami, pemuda mahasiswa dan masyarakat yang tergabung dalam Aliansi Pemuda Selamatkan Bangsa (APSB) menilai bahwa, saat ini beberapa film Indonesia telah jelas menunjukkan penyimpangan yang mendasar dari esensi koridor umum pembuatan film yang seharusnya melandaskan pada nilai-nilai luhur bangsa. Sebut saja beberapa film seperti Buruan Cium Gue ( BCG ), Virgin, Arisan, Quicky Express, ML (Mau Lagi) dan lain sebagainya. Film yang terakhir disebut, dalam trailernya, secara eksplisit menunjukkan potongan-potongan adegan hubungan seksual yang dapat menimbulkan ekses negatif bagi penontonnya. Film yang dalam waktu dekat ini akan launching di seluruh Indonesia benar-benar menjadi puncak kegeraman kami dan memberikan sebuah penegasan yang menyakitkan; bahwa penyakit pornografi dan pornoaksi secara jelas-jelas berlindung dibalik industri film yang mengatasnamakan seni.

Film ML adalah satu diantara sekian contoh banyak film Indonesia saat ini yang telah kehilangan orientasinya dalam membangun bangsa yang bermartabat dan menjunjung tinggi nilai-nilai kesopanan dalam masyarakat. Dalam hal ini, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata seharusnya bertanggungjawab penuh terhadap insiden memalukan keluarnya film-film yang mencoreng citra bangsa Indonesia sebagai bangsa timur yang menjunjung tinggi nilai-nilai luhur kehidupan manusia dan berpartisipasi dalam menyebarkan nilai-nilai kebaikan dalam masyarakat. Untuk itu, kami dari Aliansi Pemuda Selamatkan Bangsa menuntut dengan tegas:

  1. Meminta pemerintah khususnya Menteri Kebudayaan dan Pariwisata untuk mencabut izin penayangan film ML (Mau Lagi) yang rencananya di launching pada tanggal 15 Mei 2008
  2. Menindak tegas pihak Produsen, Production House, Sutradara, Artis, dan para sineas yang telibat aksi pornografi dalam produksi film-film sejenis (dengan tema utama seksualitas)
  3. Meminta pemerintah untuk lebih tegas dan kritis terhadap media dan mengarahkan pelaku perfilman dan periklanan untuk kembali merujuk kepada nilai-nilai luhur bangsa
  4. Menuntut kepada Lembaga Sensor Film Indonesia untuk bekerja sesuai dengan pedoman penyensoran yang diamanahkan Undang-Undang

Demikian tuntutan kami sampaikan untuk diperhatikan dan dilaksanakan dengan penuh komitmen dan keseriusan pemerintah. Selanjutnya, kami dari Aliansi Pemuda Selamatkan Bangsa akan bergerak di semua daerah-daerah di Indonesia untuk mengkampanyekan penolakan penayangan film tersebut. Kami juga menyerukan kepada seluruh elemen masyarakat dan bangsa untuk menghindari dan menyatakan perang terhadap pornografi dan pornoaksi yang berada di sekeliling kita.

Salam perjuangan!!!

Aliansi Pemuda Selamatkan Bangsa

[Amorno (Aliansi Masyarakat Anti Porno), FIM (Forum Indonesia Muda), ASA Indonesia (Aliansi Selamatkan Anak Indonesia), LMPI (Lembaga Manajemen Pendidikan Indonesia), Gerakan JBDK (Jangan Bugil Depan Kamera), KIP3, Djakarta Public Society, IMM Jawa Barat (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah), YKBH (Yayasan Kita dan Buah Hati), FSLDK Nasional (Forum Silaturrahmi Lembaga Dakwah Kampus), PPSDMS Bandung, MTP (Masyarakat Tolak Pornografi), HMI ITB, Kabinet KM-ITB, BEM UI, HATI ITB (Harmoni Amal Titian Ilmu), KAMMI ITB, PMK ITB (Persatuan Mahasiswa Kristen), KMK ITB (Keluarga Mahasiswa Kristen), KMH ITB, KMB ITB (Keluarga Mahasiswa Budha), Gamais ITB (Keluarga Mahasiswa Islam), Liga Film Mahasiswa ITB, Aliansi BEM Se-Bogor Raya, Indication (Institute For Democracy and Civic Education), KARISMA Salman, Dewan Tani Indonesia, Yayasan Bina Anak Pertiwi]

CP: ivanahda@ivanahda.com

7 thoughts on “Selamatkan nilai luhur bangsa dari bahaya pornografi

  1. oi.disini aja deh.
    minta tolong beberapa hal:
    1. shoutboxnya dibuat beda dunk, jadi yang di web dan di blog beda.
    2. templatenya definitely ganti ya. hehe. cariin yang simpel. yang web warna biru dasarnya. dan blog warna item aja. cari beberapa pilihanya. hehe
    3. kalo bisa template background bisa dimasukin foto. hehe
    4. dibuat link ke messenger
    5. galeri foto di blog juga ada.
    itu dulu.
    berapa bayarannya jeng?hehe

  2. @Vina Revi: beliau mengundang mahasiswa untuk mendukung dan hadir tanggal 21 mei utk mencabut izin film tersebut…

    @ivan ahda: hehehe,,, yah2,,, oke deh,,, dibuat tapi entar satu2 dulu,,, btw, wordpressnya tidak update sih templatenya ><

    @Brahmasta: tuntutannya diperhatikan sih tapi masih dalam bentuk janji,,,kita tunggu aksinya tanggal 21 mei… ^_^

  3. Saya lebih setuju dengan sistem klasifikasi daripada sistem sensor meskipun tidak semua film bakal lulus hak tayang juga. Bagaimanapun saya beranggapan bahwa tidak semua film2 diatas tersebut punya nilai negatif. Pasti ada nilai2 positip tapi untuk kalangan terbatas saja. memang diakui, penonton indonesia tidak cukup bijak memilih tayangan apa yg baik untuk mereka begitu juga dengan produser film indonesia. Tapi saya beranggapan seperti halnya film arisan yg menjadi nomine di kancah festival film internasional tidak bisa disamakan dengan film sekelas ML. Tidak semua film yg didalamnya terdapat adegan misalnya homoseksual, berciuman, seks adalah film yg tidak mendidik. Kenapa tidak sekalian film “perempuan punya cerita” juga dianggap film yg tidak mendidik. bagaimanapun juga kita sebagai kaum berpendidikan harus berani melihat konteks dan konten daripada bungkus dan bumbu luarnya, dan selalu ada reason dibalik setiap film yg dibuat yang kita harus bijak dalam menghadapinya

  4. iyah..kayanya skrg makin banyak film garing & nyampah,, mulai dari Kawin Kontrak, XL, Namaku Dick, puncaknya ya ML kali ya.
    Kayanya emang selalu gitu di Indonesia, kalo lg nge-tren satu hal, yg lain ikut smua.. Kaya dulu jaman2nya reality show “Katakan Cinta” booming, langsung deh.. yg lain menjamur kaya apaan tau.

    hadooh.. mana isinya klo di BIP anak SMA smua,,
    hahaha😀

  5. @Okky: emang film perempuan punya cerita hampir masuk disana hehehe,,, salah satu yang tidak mendidik…
    Punten,, sy belum bisa jelasin tapi saya pernah dijelaskan oleh Ibu Elly Risman, Psikolog terkenal dari UI mengatakan bahwa film-film yang bersembunyi dengan dalih mengajarkan tentang edukasi sex atopun utk tidak bergaul bebas tapi dengan konten cerita seperti itu justru sebnarnya menjebloskan…
    Yaiyalah,,, habis nonton film-film seperti itu yg nyantol bukan pesannya di otak kita tapi adegan-adegan yang membangkitkan emosi,,,
    akuilah,,,

    @Umi Fadilah: dan yang banyak menonton film begituan tuh justru anak-anak karena otaknya yang belum bisa mencerna dengan baik se-‘sampah’ apa film begituan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s