mahasiswa penyambung lidah rakyat

Rasanya sudah lama saya tidak mendengar lagi kalimat “mahasiswa penyambung lidah rakyat”. Kalimat seperti itu sering muncul saat-saat penerimaan mahasiswa baru di ITB misalnya OSKM. Bahkan saya lupa entah OSKM yang kapan terakhir saya mendengar kalimat itu atau mungkin pas OSKM saya :P… Yah bukan OSKM nya yang saya permasalahkan cuma kemarin lucu plus miris aja saya tiba-tiba dengar lagi kalimat itu dari seorang ibu penjual di sebuah pasar dan seorang peminta-minta di jalan.

Kemarin siang saat rapat persiapan perayaan Harkitnas plus Grand Launching Rumbel KM ITB saya melist kebutuhan acara. sebutkan satu persatu, yang ngurus registrasi…blabla,,, oke,, yang ngurus sertifikat…blabla,,, oke,,, akhirnya sampai di… ada yang bisa buatin film opening tentang kemiskinan gak… *berusaha tidak mengambil beban membuat film lagii😛 *, teman rumbel pun memperlihatkan film tentang kemiskinan spesifiknya anak jalanan ke kami.. Baguss,,, terutama pas wawancara ke orang jalanannya,,,sayangnya kalimatnya terlalu spesifik ditujukan buat mahasiswa ITB bukan mahasiswa secara umum sehingga kurang sesuai dengan acara nanti. Akhirnya miftah n I memutuskan untuk membuat film baru dengan sumber dari BuKuKu (Bunda Kunang-kunang) plus ditambah dengan wawancara langsung dengan orang miskin.

Akhirnya, dengan berbekal sebuah kamera saku punya Sally, sore itu saya dan miftah sedikit menyusuri sekitar Salman mencari peminta”. Korban pertama😛 adalah seorang Ibu tua yang berada di pinggir jalan Ganesha. Beliau kami wawancara dengan pertanyaan pertama tentang kehidupannya. Kaget juga rasanya tahu kalau Ibu tersebut meminta-minta tanpa diketahui oleh keluarganya di kampung dan syukurnya adalah ternyata anak-anaknya rata-rata bersekolah. Saya tidak akan banyak bercerita tentang kehidupan beliau, tapi pastinya mungkin semua mahasiswa yang sedang berkuliah di depan tempatnya dia mengemis memiliki kehidupan yang lebih mencukupi daripada beliau.

Saat sedang bertanya tentang Bantuan Langsung Tunai ke Ibu (ternyata beliau tidak tahu dan tidak pernah merasa menerima) yang saya sendiri tidak tahu pasti apakah beliau memenuhi syarat penerima BLT yang katanya ribet banget itu, tiba-tiba saya ingin tahu tentang reaksi beliau atas kenaikan BBM. Ketika saya bertanya tentang hal tersebut, jawaban yang keluar dari mulut beliau pun sudah saya duga,,, yah pokoknya gak enak rasanya mendengar keluhan orang kecil dihadapan kita yang mungkin merasa senyaman ini. Nah setelah itu pun saya bertanya tentang pandangannya tentang mahasiswa yang awalnya saya pikir jawaban beliau mungkin akan sama dengan kalimat Bapak yang ada di film Rumbel yang isinya menyindir mahasiswa khususnya ITB yang terkesan tidak punya kontribusi sama sekali ke masyarakat. Tapi saya salah,,, ternyata si Ibu malah memuji-muji Mahasiswa :O kaget donk…. kayaknya saya kok rasanya malu dengan apa yang dipuji-puji oleh si Ibu mungkin karena saya tidak merasa mahasiswa di Kampus saya seperti itu jadinya saya malu. Jadi begini percakapannya:

me: bagaimana pandangan Ibu tentang mahasiswa saat ini

Ibu: bagus yah, kemarin mahasiswa kan pada demo menolak BBM, bagus, mereka mau memperjuangkan keinginan rakyat kecil seperti saya. Semoga perjuangannya bisa berhasil ya Nak. saya ini orang kecil mana mungkin didengarkan kata-katanya sama orang besar, pemerintah. kalau mahasiswa pasti bisa menyampaikan langsung kepada mereka…

Saya pun terpaku pikiran melayang ingat demo-demo mahasiswa tolak kenaikan BBM yang katanya ‘ditunggangi’ yang akhirnya saya buktikan sendiri siapa yang menunggangi yaitu beliau adalah salahsatunnya Ibu pengemis di Jalan Ganesha. Selain itu pun tentunya saya malu karena saya merasa mungkin mahasiswa yang dipuji-puji oleh beliau bukanlah saya ataupun teman-teman saya karena setahu saya di kampus saya mahasiswa sedang bingung bersikap karena ada Perbedaan pendapat tentang Tolak kenaikan atau Setuju Kenaikan (Semakin membuktikan bahwa kampus ini adalah representasi Indonesia;) ). Yah tapi selain itu rasanya saya tiba-tiba jadi ingat teori adalah mahasiswa berada pada middle class dengan fungsi sesuai yang dikatakan si Ibu (tapi kalau versi sally bisa beda bukan kalangan middle class,,,bukan begitu sally😛 ).

Tapi tidak cukup itu saja, kami pun sempat merekam beberapa yang lain dan ada yang menarik lagi saat saya dan miftah ke pasar balubur mencari penjual yang tidak beranting (ini versi miftah menandakan penjual yang kurang mampu :P). Dan akhirnya menemukan di sudut pasar seorang Ibu yang tua banget yang saya pun tidak tega banyak bertanya ke beliau yang sedang menutup toko sendirian (kebayang capeknya bagaimana). Nah saat mengobrol sedikit ke beliau tiba-tiba ada ibu muda yang juga penjual datang dan ikut nimbrung. Berhubung si Ibu tua sulit kelihatannya berbicara. Sudah capek kelihatannya beliau mengeluh dengan keadaan tapi tetap tidak ada perubahan. Hal tersebut hipotesa singkat kita kemarin melihat beberapa orang yang kita wawancarai pas ditanya tentang tanggapan tentang mahasiswa dan pemerintah suka diam saja. Bahkan Ibu tua itu pun mengakui tidak mau berbicara tentang pemerintah atau mahasiswa karena takut salah (saya kaget juga dengar komentar Ibu tua yang sangat renta ini,,,,siapa yang menyalahkan????). Akhirnya si Ibu muda pun ikut membantu dengan semangat berapi-api mengomentari pemerintah bahkan sampai nyambung ke Pilkada walikota Jabar (ups, politis banget nampaknya) dan akhirnya ketika sampai ke tanggapan untuk mahasiswa kurang lebih sama yang dia ingin utarakan dengan yang dikatakan Ibu di atas.

Ibu muda: “mahasiswa…bla bla…. mahasiswa kan katanya penyambung lidah rakyat…. bla bla”

si Ibu bahasanya terpelajar banget, tapi bukan itu yang ingin dikomentari karena tiba-tiba saya ingat lagi flashback 4 tahun yang lalu bagaimana perasaan saya membaca sebuah tulisan di kain hitam panjang yang mengiri kedatangan dan kepulanganku dari kampus itu.

One thought on “mahasiswa penyambung lidah rakyat

  1. fitra, rasa kangen aksi itu akhirnya terhapuskan waktu aksi tolak kenaikan BBM tanggal 16 Mei lalu, bareng aliansi GEMA ITB. Gerakan Mahasiswa ITB, yang terdiri dari : Gamais ITB, Swasta 2004 ITB yang ga lulus2, anak-anak 2007, Garda Ganesha, dan tentu saja Sobat BoLang, hehe :p .
    sayang, ga bisa bawa nama KM ITB, seperti yang fitra bilang, anak ITBnya masih pada ribut tolak atau dukung kenaikan BBM,,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s