Waspadalah pada media

Singkatnya tulisan ini dipicu atas kasus AKKBB dan FPI. Tapi saya bukan akan membahas tentang kasus itu tapi pembaca akan mendengar kritikan saya terhadap media di tanah air ini khususnya elektronik. Saya semakin gerah ma stasiun-stasiun TV di Indonesia saat ini tentunya diawali karena semakin banyak tontonan-tontonan yang tidak mendidik bahkan menjebloskan. Dimulai dari sinetron Inikah Cinta di SCTV yang bikin eneg banget, target konsumennya anak muda tapi isinya lebih baik ditonton ma orang yang udah kakek nenek, trus ada juga tontonan tentang ekspedisi hantu dan lain lain yang akhirnya tidak bertahan juga sampe sekarang. Huff ampun deh kalau harus disebutin bisa kepanjangan deh.

Dulunya saya beranggapan masih ada tontonan yang berbobot yaitu berita walaupun lucunya saya yang penonton berita umum maupun artis ini (infotainment) kadang-kadang tidak bisa membedakan antara keduanya. Yaiyalah isinya kadang-kadang sama. Tapi itulah yang saya mau kritisi saat ini dan dari dulu-dulu. Tontonan berita pun sama ‘tidak benarnya’ dengan cerita sinetron di atas. Kadang-kadang tidak edukatif malah lebih provokatif.

Kasus yang saya sebut di awal yaitu berita AKKBB dan FPI. Sudah seminggu kasus itu terjadi tapi masih ada media yang tidak edukatif memberitakannya. Maksudnya tidak edukatif adalah terhadap sebuah berita, media mendorong si penonton untuk melihat hanya dari satu sudut pandang saja. Untuk studi kasus AKBB dan FPI saya sangat melihat jelas SCTV dan Metro TV adalah dua stasiun TV yang paling tidak edukatif.

Sebelum saya menjelaskan tentang kenapa kedua stasiun TV tersebut tidak edukatif maka saya akan menceritakan tentang pandangan saya yang mana yang edukatif versi saya. Pertama berangkat dari etika bahwa media haruslah netral. Sulit tentunya karena media elektronik adalah sebuah industri dimana si pemegang modal terbesar berarti punya kuasa tapi tentunya ada pihak lain yang juga bisa punya kekuatan yang mengalahkan si pemegang modal yaitu Penonton itu sendiri. Penonton yang cerdas bisa mengimbangi kekuatan si pemegang modal.

Berawal dari kenetralan tersebut makanya saya menganggap bahwa dalam sebuah kejadian maka setiap media memberitakan hal tersebut pun netral. Bagi saya melihat kenetralan salah satunya adalah dengan mengangkat suatu masalah dari dua sisi atau lebih dari satu pihak. Dua sisi yang dimaksud dapat berupa sisi positif dan negatifnya, atau kelebihan dan kekurangannya. Dengan demikian berarti yang harus difokuskan pun adalah menghadirkan opini dari dua atau lebih pihak yang berseberangan dalam suatu berita.

Ketidakedukatifan SCTV yang saya ingat belakangan ini yaitu saat mengangkat masalah tentang ML. Mengenai masalah AKBB dan FPI ini terlihat jelas bahwa opini yang sering diangkat yaitu AKBB yang benar (lucunya opini itu didukung ma penekanan oleh penyiar beritanya dan yang paling menyakitkan adalah penyiar kesukaan saya, aduh tidak profesional amat sih). Tapi emang liputan 6 tuh ‘lebai’ dan mengangkat sebuah isu. Jadi nih misal kalau sekarang kalau lagi heboh BBM maka itu aja yang akan diangkat dalam sekali berita (makanya mungkin saya suka nonton) nah termasuk dengan kasus AKBB ini yang diangkat tuh berita itu terus (kemana lagi isu BBM). Tapi yang bikin saya kecewa sebagai umat beragama kok yang isi beritanya jadi berkesan bagi saya sangat tidak sehat untuk agama tertentu. Jangan karena berita umat beragama teradu domba… marah mode on

Metro TV bagi saya bukan lagi media Berita yang profesional. Banyak berita dari dulu tapi saya hanya akan mengungkapkan berita-berita yang saya ingat karena masih baru. Misalnya kasus FPI dan AKKBB ini sempat masuk di acara save our nation dengan tokohnya si Rizal Mallarangeng. Jeleknya adalah narasumber yang diundang adalah hanya dari tokoh AKBB saja. Harusnya kan bila narasumber hanya dari satu pihak saja maka otomatis si pembawa acara bisa diposisikan pada pihak yang berseberangan dengan narasumber tapi nyatanya justru si Rizal Mallarangeng malah mengamini setiap ucapan aktivis AKBB sekaligus JIL itu, mbak Nong yang namanya jadi terkenal karena ada email yang tersebar di milis atas nama beliau (sudah jelas isi email tidak valid karena di depan layar dia tidak menceritakan hal yang sama dengan email tersebut). Cek percek mbak Nong dengan Rizal punya kerjasama terkait dengan organisasi yang dipimpin oleh Rizal yaitu Freedom Institute, informasi dari about me di blog mbak nong. Menonton itu rasanya saya yang awalnya netral, saya jadi berpikir FPI adalah korban. Banyak hal yang mengindikasikan kejadian itu terencana dari tidak adanya polisi yang melerai di awal trus pengakuan anaknya Abdurrahman Wahid kenapa ada polisi yang menelepon barisan PDI yang sempat melakukan aksi di Monas juga untuk mundur (ini saya dengar di salah satu berita TV).

Ketidakedukatifan yang paling tidak profesional adalah saat semalam nonton diskusi dengan presiden SBY. Ingin banget menertawakan dan lama-lama penasaran dengan siapa tim produksi di belakang karena saya melihat semua pertanyaan yang ditanyakan oleh Desi Anwar kelihatannya tidak ada greget dan sudah dikomunikasikan dengan Presiden sebelumnya sehingga jawabannya terlihat dipersiapkan. Kalau kata kerennya pertanyaannya tuh cupu banget.

Sudah seminggu kasus AKKBB dan FPI ini terjadi, saat nonton berita di stasiun TV lain yaitu RCTI ternyata isi beritanya sudah mulai berwarna mungkin karena disebabkan demo besar-besaran pagi ini tentang penolakan Ahmadiyah. Jadi lebih berimbang tapi sekaligus lucu. Jadi saat nonton berita RCTI siang ini secara berurutan opini berita diarahkan untuk melihat masalah AKBB dan FPI dari hal lain dan kebetulan sama dengan praduga saya dulu. Di awal diberitakan perkataan Hasyim Muzadi yang menghimbau tentang masalah AKKBB dan FPI agar tidak memprovokasi umat muslim (agak lupa detail omongan tapi tidak menunjukkan simpatinya pada AKBB ataupun FPI). Nah kemudian dilanjutkan dengan pendapat Amien Rais yang juga sama dengan Hasyim Muzadi plus mengatakan bahwa kejadian di Monas kemarin adalah kejadian yang sangat terencana dan merupakan rencana dari suatu golongan yang ingin mengalihkan pandangan masyarakat atas masalah lain di bangsa ini yaitu kenaikan BBM. dan emang sudah diskenariokan kali yah setelah Amien Rais diwawancara langsung diperlihatkan berita tentang demo mahasiswa di Jogja atas kenaikan BBM.

Kesimpulannya realita saat ini menunjukkan tidak ada media yang netral. Memang saya hanya melihat SCTV dan metro TV (karena kebetulan gambarnya paling bagus di TV saya😀 ) tapi saya yakin kadang-kadang di berita lain di stasiun TV lain pun akan terjadi ketidakedukatifan tersebut atau mungkin lebih edukatif. Oleh karena itu sebagai penonton yang cerdas kita harus waspada😀 .

Agama adalah hal yang sensitif dan sudah jadi sejarah membuat masyarakat Indonesia terpecah dan teradudomba seperti di Poso, Maluku, dll. Coba telusuri kasus -kasus itu juga bahwa pihak-pihak yang ada di belakang itu ataupun yang memperoleh keuntungan adalah bukan yang berselisih atau agama tertentu tapi pihak lain yang memperjuangkan hal diluar agama (bisa saja penguasa yang berkuasa atau pihak lain). Sama halnya saya melihat di kasus AKKBB dan FPI.

Maka sekali lagi kritislah teman jangan karena media, pemimpin, atau tulisan saya, maka kita mengikuti pendapat tersebut dan terprovokasi.

Waspadalah,,, waspadalah,,, (pake nadanya bang Napi)

6 thoughts on “Waspadalah pada media

  1. enak emang temenan ama golkar dan akkbb. di back up metro tv terus🙂

    ntar 2009, sepertinya metro tv bakal “kuning” lagi🙂

    *ayo, kuasai media. ladang amal yg gede sekali.

  2. yang namanya media pasti gak sepenuhnya netral pasti ada interest2 tertentu…tergantung siapa orang dibalik media tersebut…it’s about opinion management…

    blogwalking…

  3. @padhepokananisme: yeah, emang butuh,, thats why kita mulai dari diri sendiri dulu😉

    @rmulyawan: klasik tapi tidak ketinggalan jaman

    @arifrahmanlubis: iya yah kuasai media = ladang amal = ladang uang yang besar untuk modal😛

    @santo86: walaupun sulit untuk netral tapi setidaknya mendidik dan sportif

  4. soal tv, jarang banget nonton tv sebenernya. baca berita juga lwt internet seringnya. soalnya suka kesel sendiri jadinya kl nonton tv. kl ga film yg ga edukatif banget, acara gosip yg makin males dengernya, berita suka ga bener & ga objektif… selain itu, [sama😀 ] yang bagus gambarnya cuma trans. tapi sekarang2 ini anak2 lebih sering liat tvone, lumayan [ini engga ngiklan yah🙂 ] bbrp hr lalu ada diskusi ttg UNAS, bagus loh. dia bisa liat pasar yg lagi jenuh dg tayangan2 — kata mba yuli waktu itu yg lg maen ke kosan, tambahan kata pipi : yah, pasarnya kan kita2, berarti yg jenuh sama tayangan kan kita… hehehehehee… piss!😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s