dan jadikan iman itu indah di dalam hati

Seminggu lalu saya menghadiahkan teman sebuah buku yang saya tidak tahu isinya apa. Jadi akhirnya saya beli lagi buku yang sama agar saya tahu seperti apa isinya padahal awalnya tidak pernah terpikir untuk dibeli. Tapi setelah membaca saya jadi merasa salah memberi buku ke teman saya hehehe kok bisa??
Buku itu berjudul “catatan hati seorang istri” awalnya dulu saya berpikir isinya adalah cerita-cerita bahagia atau menginspirasi menjadi seorang istri ternyata setelah membaca kisah-kisahnya malah berbeda jauh dari bayangan saya. Saya tidak akan membahas tentang buku itu tapi intinya adalah buku itu menceritakan cobaan berat yang dilalui para perempuan saat menjadi ibu dan istri. Berbagai kisah yang diceritakan tapi rata-rata penyebabnya hal yang sama (silahkan baca dan temukan sendiri apa itu?? hihihi).

Saya pun terpikir dan juga membayangkan bagaimana bila saya berada di posisi salah satu saja dari lakon perempuan di berbagai cerita di buku itu. Mampukah saya setegar para perempuan itu? Bagaimana saya akan melalui semuanya dengan ikhlas?

Pertanyaan itu belum hilang walaupun saya telah membaca selesai buku itu yang diakhiri juga dengan kisah-kisah indah sebagai penyeimbang kisah-kisah yang menyakitkan di awal.

Hari ini saya harus bertemu dengan pembimbing saya dengan tujuan utama untuk menanyakan kesediaan dan waktu beliau untuk prasidang tugas akhir saya. Pertemuan pagi ini diawali dengan pemberitahuan saya bahwa dokumen akhir telah saya revisi dengan tambahan dari masukan atas presentasi saya kemarin. Sebenarnya intinya yang ingin saya sampaikan “dokumen saya sudah saya lengkapi dan kapan saya bisa prasidang?” hehehe. Jawaban dari pembimbing saya ternyata berbeda dengan yang saya bayangkan karena beliau meminta waktu untuk berdiskusi tentang keseluruhan dokumen sebelum saya prasidang dan waktu itu adalah hari selasa. Setelah obrolan singkat tersebut saya kembali ke laptop saya (bukan tukul yah) dan sempat down lagi. Hah, diskusi lagi dan itu selasa hitung-hitungannya setelah itu saya harus nyari reviewer dulu, apakah bisa prasidang tetap minggu depan. Belum perbaikan buat sidang. habis itu juga ada perbaikan setelah sidang.
Eits, untung saya tidak mabuk dengan pikiran-pikiran konyol di atas. Kenapa konyol? ya iyalah itu belum terjadi dan itu tidak pasti akan terjadi. Secara logika kalimat Pembimbingku tidak menyebutkan bahwa saya belum boleh prasidang malah beliau sudah menyetujui walaupun tidak menyebutkan waktu.

Huff ya Allah betapa sempit awalnya pikiran ini. Untungnya karena kekuatan dari-Mu juga akhirnya saya berusaha berpikiran positif bahwa ini adalah kebaikan dari-Mu memberikanku banyak waktu untuk mempersiapkan segalanya. Akhirnya kutenangkan hati dan pikiranku dan sorenya saya menghadap lagi untuk berdiskusi tentang hal lain. Akhirnya pertolongan-Mu pun datang yang berupa kalimat bahwa beliau mendukung prasidang minggu depan, memajukan menjadi hari senin, dan menyarankan siapa yang menjadi dosen reviewer.

Terima kasih ya Allah, maafkan aku yang sempat goyah hati ini atas khilaf lupa untuk berpikir positif atas segala sesuatu.

Seminggu yang lalu,
Hari ini seharusnya adalah pengumuman siapa yang akhirnya diamanahkan trainer SSDK ITB 2008, Kata panitia pengumuman lewat sms. Kenyataannya, pagi ini saya mendapat kabar bahwa teman-teman saya sejurusan yang disms diminta hadir di pertemuan perdana trainer SSDK pagi ini. Tapi kenapa saya tidak di-sms? Apakah ini mengindikasikan saya tidak lolos? Segera saya mencari tahu karena bila lolos berarti saya harus datang juga di pertemuan itu. Padahal saya belum menyelesaikan perbaikan-perbaikan bagian perancangan TAku yang saya niatkan selesai hari ini (ini keHARUSan buat diri sendiri :P).

Atas kebingungan dari kabar tersebut saya pun teringat dengan kata-kata saya seminggu lalu ke teman saya “saya udah bersyukur atas apresiasi dari training tamu atas penampilan simulasi pelatihan sebagai seleksi terakhir jadi kalaupun tidak lolos karena nilai yang diberikan oleh peserta yang lain gak masalah karena sudah dapat apresiasi yang tidak pernah saya dapatkan sebelumnya”. Sempat merasa menyesal kenapa yakin berbicara seperti bila akhirnya terjadi tapi saya tidak mampu ikhlas.

Ah untungnya, lagi-lagi Engkau mendekati hati ini, mengingatkan bahwa ini adalah ujianmu bagaimana saya harus memegang kata-kata saya sendiri, bahwa saya mungkin belum seniat teman-teman saya yang lain dalam berdoa meminta kepada-Mu untuk berkah tersebut. Namun, hal yang berusaha saya syukuri pagi itu adalah saya tahu bahwa Engkau sedang memberikan saya kesempatan untuk menyelesaikan tugas saya yang menjadi prioritas saya. Engkau sedang menjawab doa-doa saya agar saya diberi kesempatan dan fokus untuk menyelesaikan amanah saya yang satu itu dengan indah. Perasaan tenang tersebut tidak berlangsung lama karena siang ini setelah saya mengirimkan tugas saya yang akhirnya bisa saya selesaikan kepada pembimbing, saya mendapat kabar bahwa saya seharusnya menjadi trainer SSDK karena tadinya ada data nilai yang sempat hilang.

Terharu, saya bersyukur sekali bukan hanya karena diberi kesempatan berbagi buat mahasiswa baru tapi terutama atas kesempatan untuk bisa berpikir positif atas segala kehendak-Mu.

Ya Allah, saya merasa menjadi seorang yang sangat beruntung bisa memperoleh dua kesempatan sekaligus yang mungkin seharusnya harus saya pilih salah satu.

Hal sederhana tapi masih berat untuk dilakukan adalah berpikir positif atas segala kehendak Allah swt kepada makhluknya atau dengan kata lain tidak pernah putus harapan atas pertolongan atau kebaikan dari-Nya. Pelajaran yang dari dulu selalu berusaha saya terapkan dalam menghadapi segala sesuatu tapi entah sudah sejauh mana saya mempelajari karena terkadang saya lalai juga. Teringat sebuah film yang sangat menginspirasi saya atas ketakwaan atau ikhlas atau berpikir positif kepada kehendak-Nya. Singkatnya film yang berjudul kunfayakun itu menampilkan suatu potongan cerita yang berisi tentang keluarga yang diberi cobaan berupa kekurangan dari segi materi tapi dengan keikhlasan dan iman yang kuat akhirnya mereka bisa menghadapi cobaan tersebut. Dua hal yang sangat menyentuh saya yaitu bagaimana keluarga tersebut tetap selalu menjaga keimanan walaupun menghadapi cobaan hidup yang berat sekali yang tentunya berasal dari Allah swt (entah kalau saya menjadi mereka bisa setabah itu atau tidak).

Bagaimana bila kita diposisi si pemeran utama dimana dia hanya meminta kepada Allah penghasilan 20rb suatu hari dimana dia sebelumnya sudah berusaha dan berdoa dengan maksimal sebelumnya tetapi untuk memperoleh penghasilan itu dia menghadapi cobaan yang berat dan sempat membuat dia hampir hilang keyakinan atas pertolongan Allah hingga akhirnya pertolongan itu datang dan lebih dari yang diharapkan, Subhanallah.

Moral dari film itu mengajarkan bagaimana sikap menerima cobaan yang berat sekalipun tanpa kehilangan keyakinan atas pertolongan-Nya. Yah, hal itu yang saya sebut berpikir positif atas segala kehendak Allah swt.

Dan film itulah yang merampung dan menjawab potongan-potongan cerita saya sebelumnya.

Saya mungkin belum bisa disejajarkan dengan perempuan-perempuan yang ada di kisah-kisah buku catatan hati seorang istri yang dapat tegar dengan cobaan hidup seberat itu. Tapi bila saya menghadapi cobaan lain maka semoga saya bisa menerimanya sebagai keyakinan bentuk Sayang-Mu.
Saya mungkin masih sering bete atau down dengan segala tantangan yang berhubungan dengan tugas saya tapi semoga Engkau terus mendampingi saya agar bisa terus tersenyum di atasnya tugas yang meletihkan hati dan pikiran.
Saya mungkin bukan hamba-Mu yang selalu ingat untuk bersyukur tapi semoga Engkau memberiku kesempatan dan menunjukkanku jalan untuk selalu bersyukur atas segala kenikmatan yang bertubi-tubi.

Saya ingin selalu ingat bagaimana kasih sayang-Mu membuat segalanya berakhir dengan indah.
Saya ingin selalu yakin bahwa pertolongan-MU selalu ada untuk makhluk-Mu yang punya keyakinan
Dengarlah pintaku ya Rabb…

..dan jadikan iman itu indah di dalam hati..

8 thoughts on “dan jadikan iman itu indah di dalam hati

  1. Subhanallah, tulisannya indah sekali..

    Saya yakin teman-teman (dan saya sendiri) pernah merasakan situasi seperti yg ai rasakan..

    Mudah-mudahan ini bisa menjadi pengingat bagi kita untuk selalu bersyukur dan bersabar atas segala nikmat-Nya..

  2. akhirnya selesai jg nonton film kunfayakun.. awalnya mmbosankan dan aktingnya terkesan berlebihan..hehe.. tapi mmg hikmahnya bagus bgt.

    Mohonlah pada Allah, berprasangka baik pd Allah, kemudian ikhlas akan rencana Allah..

    semoga qt dpt menikmati jamuan ALLAH di bulan Ramadhan yg akan datang

  3. Lihatlah pohon di luar jendela itu. Bukankah kau beberapa minggu ini tertarik memperhatikannya? Kau sudah lihat pohon itu dulu berdaun lebat. Lalu datang musim gugur. Daunnya menjadi kuning, rapuh, kemudian berjatuhan ditium angin kencang. Musim dingin sudah berlalu, dan sekarang musim semi. Kau lihat daunnya bersemi, dari hari ke hari semakin lebat, dan sekarang seluruh cabangnya telah hijau kembali.

    Dari tahun ke tahun seperti itu. Sejak pohon itu kecil, hingga sekarang menjadi besar. Kau lihat, meskipun daunnya berjatuhan dan bersemi lagi, bukan berarti pohon itu semakin kecil. Tetapi semakin besar, semakin tinggi, semakin rindang.

    Seperti itulah manusia yang beriman. Mereka tidak akan pernah lepas dari ujian, dari tiupan angin badai penderitaan. Karena itulah makanan bagi keimanannya agar tumbuh subur. Namun selalu “sesudah kesulitan itu ada kemudahan”, selalu ada yang bersemi, selalu ada kebahagiaan baru. Seperti pohon yang makin tinggi, iman mereka pun semakin meningkat.

    Kadang-kadang ada pohon yang tumbang karena badai dahsyat. Namun selama akar pohon itu masih masuk ke dalam tanah, sumber bahan kehidupan, pohon itu tidak akan mati. Daun dan dahannya akan selalu tumbuh. Oleh karena itu, tancapkan hatimu, akarmu, kepada Sumber Kehidupan, kepada Dzatullah. Maka kau akan selamat.

    Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut,dan dengan tidak mengeraskan suara,di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.(Al A’raaf 205)

    Pohon tidak pernah khawatir akan kehilangan daun untuk selamanya ketika daunnya berguguran. Apakah kamu tidak malu pada pohon itu? Belajarlah darinya.

    Ditulis oleh :Ismail Fahmi adalah mahasiswa Alfa-Informatica di Rijksuniversiteit Groningen
    (http://www.gagakmas.org/qolbu/?postid=32)

  4. “Mampukah saya setegar para perempuan itu? Bagaimana saya akan melalui semuanya dengan ikhlas? ”

    preparation, bahasa indonesianya persiapan. masalahnya adalah persiapan untuk apa? apakah kita akan bersiap untuk skenario skenario terburuk yang bisa terjadi dan membayangkan kesusahan yang dialami pada saat itu sambil mencuri start untuk mencari jawaban dari persoalan itu saat ini?

    bila demikian maka kita akan kehabisan rencana ketika akhirnya semua persoalan berhasil diatasi.

    kayak kita menyiapkan puluhan bilangan untuk mengcounter angka angka minus. pada akhirnya ketika semua masalah berhasil diatasi, ternyata kita baru mencapai angka nol.

    maksudnya gak perlu mikirin kesusahan yang belum terjadi.. mendingan bikin rencana untuk keseluruhan dan membayangkan masa depan yang baik dan indah sehingga kita tidak sabar untuk menyongsongnya..

    aim for the star, see where it never fall..
    aim for the ground, it’ll never fell

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s