Begitu kuat dalam keikhlasannya

Yah, disinilah saya, di sebuah tempat yang dari dulu saya bayangkan saya datangi tapi bahkan saya tidak berusaha mendatanginya. Hingga beberapa hari yang lalu saya niatkan saya akan mengunjungi tempat itu selama saya masih diberi kenikmatan hidup di dunia. Saya mengajak upik untuk memberanikan datang ke tempat itu di malam hari walaupun sempat berpikiran mereka tidak menerima tamu malam-malam. Ternyata sampai disana kami diterima dengan sangat ramah dan sederhana. Awalnya saya dan upik hanya sekedar melihat apa yang sedang dilakukan oleh anak-anak di sana. Kumulai dengan berkenalan dengan seorang anak yang bertubuh bongsor menggunakan pakaian yang sama dengan warna bajuku saat itu, MERAH. Kupegang tangannya kutanya namanya, tapi selalu saja dia tidak menyebutkan namanya. Entah apa yang dia bilang. Terasa ada ketidaknyamanan atau ketakutan ketika pertama berkenalan denganku, entah reaksi itu menggambarkan diriku saat itu atau memang benar-benar menggambarkan perasaannya ketika bertemu orang baru. Akhirnya diceritakan oleh pengasuhnya bahwa dia tidak lulus TK, dua tahun masuk TK tapi sulit menggambar, membaca, apalagi berhitung. Pengasuh tersebut bercerita sambil tertawa dan berkaca-kaca. Ahhh mungkin habis air mata ini sejak 3 hari yang lalu, hingga saya tidak sempat merasa kasihan dengan adik itu bahkan ketika saya melihat dia berjalan saya menyadari ada yang tidak sempurna dari fisiknya. Saya justru kagum dengannya atas segala kekurangan yang dia miliki dan dia bisa terlihat begitu kuat serta tabah menjalaninya. Saya yakin dia adalah anak yang hebat.

Selanjutnya saya berkenalan dengan adik-adik yang lain. Saya bermain dengan mereka layaknya saya adalah bagian dari mereka. Yah, saat itu saya juga manusia yang sama dengan mereka punya banyak kekuarangan yang walaupun tidak terlihat dengan mata tapi juga sebanding dengan kekurangan fisik atau materi adik-adik itu. Adik-adik itu begitu lincah sekaligus sangat haus perhatian. Sekali saya menemani icha kemudian tata akan datang mengganggu mencari perhatian, begitupun terjadi pada yang lain. Bahkan ketika sang adik yang awalnya tidak mau berkenalan denganku kemudian malah asyik meminta segala perhatianku.

Ketika disuruh tidur dia malah memintaku untuk mengajarinya membaca. Disitulah pertama kali saya menyadari betapa anak ini ingin membaca, dari sarat matanya yang dalam, dari usahanya menggapai buku itu, dari ketekunannya melihat isi buku yang entah apakah dia sudah mengerti cara membaca atau dia sekedar mengingat kata-kata itu saja. Kutemani dia membaca tapi lagi-lagi datang adik yang lain ingin membaca, dia MARAH. Dia tidak ingin diganggu belajar membaca, dia ingin saya hanya menemani dia saja belajar. Sedikit demi sedikit akhirnya dia luluh juga dan mau berbagi buku dengan temannya. Badannya bongsor tapi kemampuan membacanya tidak lebih dari temannya yang badannya kecil, tentunya berbanding terbalik dengan semangatnya. ketika akhirnya saya harus berpisah dengan mereka, sebagian dari mereka sudah berada di tempat tidur dengan pakaian yang terbuka sebagai ritual sebelum tidur, tapi adik tadi masih duduk dekat meja belajar terlihat sangat khusyu menikmati buku bacaan yang ada di pangkuannya. Saya mengajaknya tidur tapi dia dengan tenang menjawab dia sedang membaca. Seketika saya merasakan bagaimana semangat tidak menyerahnya selama ini, dua tahun belajar di bangku taman kanak-kanak hingga akhirnya harus menetap di rumah dan tidak bersekolah bagi saya tiba-tiba bukan masalah ketika melihat dirinya. Dia begitu kuat, tidak masalah dia tertinggal dari teman-teman yang penting adalah dia bisa melakukan hal maksimal yang bisa dia tunjukkan. Sederhana dengan cara tidak menyerah.
Sekelibat saya ingin teriak bilang, kamu pasti bisa, kamu pasti bisa, kamu pasti bisa membaca seperti dejavu pengalaman 3 hari yang lalu di Lembang saya menyemangati teman kelompok rasanya seperti sedang memindahkan energi yang besar dari sel-sel tubuh saya ke orang lain.

Cukup ini yang ingin saya tuliskan, banyak hal yang saya rasakan, tapi biarlah semangat menulis ini saya salurkan ke hal yang lebih nyata, semoga saya tidak pernah menyerah untuk membantu adik itu merasakan bahwa dia begitu berharga, sama seperti apa yang sudah dia buktikan bahwa saya begitu berharga.

Inilah yang disebut ikhlas, menerima kekurangan yang dimiliki tapi tidak menjadi itu sebagai batasan.
Walaupun secara mental atau IQ kamu kurang tapi kamu yakin kamu bisa membaca karena ketika Allah mengatakan terjadi maka terjadilah.

-25 November 08, Panti Asuhan Bayi Sehat, Purnawarman, Bandung-

2 thoughts on “Begitu kuat dalam keikhlasannya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s