Lanjutkan Pasangan Nusantara

Pemilu Presiden baru saja selesai sekitar 3 jam lalu, tapi hasil quick count sudah menunjukkan siapa yang akan menjadi Presiden RI 2009-2014. Semoga semua calon tetap ingat janji dan niat besarnya untuk membawa Indonesia ke gerbang kesejahteraan, keadilan, kemandirian dan tentunya kemerdekaan yang sebenarnya. Sehingga siapapun nanti yang menang atau kalah tetapi mimpi untuk Pemerintah yang PRO RAKYAT, dan MELANJUTKAN YANG LEBIH BAIK dengan CEPAT tetap terwujud.

Buat pasangan no.2 (termasuk yang mencoblos), kemenangan ini milik semua rakyat Indonesia. Namun, belum pantas kemenangan ini dirayakan, Indonesia menunggu persembahan ‘kemenangan’ sesungguhnya yang patut dirayakan oleh Indonesia. Walaupun sejak dulu sejujurnya saya tidak pernah yakin atas kepimpinan presidenku dulu dan calon presidenku nanti, tapi berjiwa besar itu lebih baik daripada mengutuk kekalahan. Berawal dari yakin bahwa kali ini presiden terpilih bisa menjawab ketidakyakinanku…Pihak yang kalah, tidak sebaiknya mencari kambing hitam, mengutuk keadaan, dan berburuk sangka. Saatnya ikhlas dan fokus kembali mewujudkan mimpi besar untuk Indonesia, dalam bentuk, posisi, jabatan apapun. YES WE CAN.

Hal yang menarik buat saya adalah menunggu-menunggu pernyataan dari pasangan no. 1 dan 3, karena saya memang tidak pernah tertarik mendengar pernyataan pasangan no.2 ups :P. Yah, sebenarnya hasil resmi belum keluar jadi wajar kalau memang ada pasangan yang belum mau memberikan pernyataan sikap. Namun saya salut sekali dengan ketenangan dari Bapak Jusuf Kalla saat memberikan pernyataan yang mengapresiasi pihak yang dinyatakan menang oleh LSI. *Tentunya jangan samakan beliau dengan salah satu tim sukses pasangan no.2 AM yang mudah tersulut tampaknya ^^,*. Sudah sepatutnya dicontoh oleh semua pihak yang merasa kecewa atas hasil Pemilu Presiden kali ini untuk berlapang dada menerima pilihan rakyat Indonesia, karena mengutip kata-kata Bapak Jusuf Kalla bahwa “siapapun yang menang di Pemilu Presiden nanti maka dialah yang terbaik, dan saya siap mendukung siapapun itu”. Doakan saya yah karena berdasarkan pengalaman 5 tahun kemarin, bagi saya sulit sekali mendukung Bapak yang menang itu huehehehe ^^V

Terakhir dan juga inti dari tulisan saya, walaupun hasil pemilu berbeda dengan yang saya harapkan, perbedaan karakter dari setiap pasangan capres-cawapres di Pemilu kali ini memberikan inspirasi seperti apa yang menurut saya pemimpin terbaik Indonesia selanjutnya. Saya tetap yakin pasangan Nusantara: Lebih Cepat Lebih Baik dapat memberikan perubahan yang lebih baik bukan karena ada kedekatan latar belakang alias asal usul dengan capresnya, 5 tahun lalu saya tidak suka dengan beliau hingga akhirnya saya salut dengan kinerja beliau menjadi wakil presiden. Oleh karena itu, Saya tetap mengharapkan pemimpin Indonesia berikutnya yang konkrit, optimis, cepat dan tepat mengambil keputusan, berani mengambil resiko, dan apa adanya seperti yang saya kagumi dari kampanye yang diusung oleh pasangan Lebih cepat lebih baik, *huehehe berarti siapapun sebenarnya bisa menjadi seperti itu*. Saya tidak butuh pemimpin yang baik di mulut tapi tidak nyata di tindakan. Saya tidak ingin pemimpin yang wibawa tapi tidak berani untuk memimpin perubahan yang lebih baik. Yes, saya yakin Indonesia Bisa, Esok Harapan itu masih ada bukan ^_^. Jadi daripada larut dalam kesedihan dan kekecewaan mending kita berlomba-lomba melanjutkan perjuangan Pasangan Nusantara.

*Mungkin JK-WIN tidak beruntung kali ini menjadi pasangan nusantara terpilih. Tenang, saya akan LANJUTKAN kepemimpinan PASANGAN NUSANTARA ^_^ ?????*

Iklan

Sekali dalam Lima Tahun: Politik Starbucks

Horeee besok kita pesta….pesta starbucks… eh salah maksudnya besok PEMILU.

Saya Fitrasani menyampaikan pesan untuk semua rakyat Indonesia untuk menggunakan hak pilih dengan bijak. Pilihlah caleg-caleg yang bermoral baik, bersih, dan bisa dipercaya. Kenali calegmu, kalau tidak kenal, bisa minta pencerahan ma saya aja ahahaha.

Terakhir jangan lupa besok baca bismillah sebelum mencontreng, semoga pilihan teman-teman adalah pilihan Indonesia.

Selamat memilih…

Btw, buat yang telah mencontreng silahkan datang ke starbuck terdekat untuk mendapatkan minuman gratis. Mari kita bikin Bangkrut STARBUCKS ahahaha

Pemilu countdown 27 days

Socrates: Jika kalian memilih atlet terbaik di antara kalian, apakah kalian akan memilih orang tersebut secara kebetulan? Jika kalin memilih nakhoda terbaik untuk sebuah kapal, akapakah kalian akan memilih orang tersebut secara kebetulan?

Pendengar: Tentu saja tidak

Socrates: Lantas mengapa kita memilih para politikus kita secara kebetulan?

*Road to 9 April 2009*

Ganti Pemimpin Bandung yang Lama

Disclaimer: Hati-hati dengan postingan saya yang ini karena mungkin dapat mempengaruhi pilihan Anda di Pilkada Kota Bandung, 10 Agustus 2008 ^_^

Walaupun sudah tinggal menghitung hari (10 Agustus 2008) proses pemilihan pemimpin kota Bandung, semoga postingan ini tetap bisa memberikan insight buat pencoblos atas siapa yang akan dipilih. Berbeda dengan postingan seorang blogger terkenal sekaligus dosen yang terang-terangan mendukung seorang calon atau bahkan mantan calon yang dulu saya dukung pun juga menghimbau untuk mendukung calon no. 2, Akhirnya, Kekuatan ITB bersatu. Namun begitu, saya malah terpikir mendukung untuk TIDAK mencoblos salah satu calon. Hal ini dilatarbelakangi dari acara debat cawalkot Bandung yang ditayangkan di TV One beberapa hari lalu.

Siapa yang saya maksud adalah calon yang notabene telah memimpin Bandung lima tahun terakhir ini. Terus terang waktu nonton debat kemarin saya benar-benar kecewa dengan setiap jawabannya ataupun caranya berkampanye. Saya merasa apa yang ingin beliau sampaikan kemarin adalah cukup banyak keberhasilan/kemajuan Bandung setelah beliau pimpin. Bahkan yang paling memalukan adalah ketika beliau dengan ‘geer’nya mengatakan bahwa pendapat kedua calon lain pun mendukung. Padahal bagi saya….

Yang mana yang beliau sebut dengan keberhasilan??? Yakin itu keberhasilan

Bila benar adanya pertambahan kawasan hijau disebut keberhasilan ataupun perkembangan Tegal Lega disebut dengan keberhasilan untuk lima tahun…

Maka sayang sekali karena bagi saya semua yang dia sebutkan sebagai keberhasilan adalah KURANG BAGI SAYA  untuk hitungan kepemimpinan selama LIMA TAHUN.

Apalagi kalau keberhasilan itu harus dikurangi dengan KEGAGALAN dalam tata kota maupun pengelolaan SAMPAH, mungkin saja HASILNYA MINUS

Pengelolaan sampah yang disebut beliau berhasil tapi selama 3 tahun terakhir sampah di dekat kampus tetap saja menumpuk…

Kekecewaan saya terhadap standar keberhasilan yang beliau katakan membuat saya ilfil. Ternyata bukan hanya saya yang kurang sreg dengan calon tersebut karena saya bimbingan pun obrolannya mengarah kesitu (pantesan lamaaaa). Pemimbing saya berpendapat bahwa dalam konteks pembelajaran (teteup dihubungkan dengan TA saya) ketika beliau (refer to calon pertama) menyampaikan hal yang disebut dengan keberhasilan maka harusnya diimbangi dengan berani menyampaikan apa saja KEKURANGAN beliau dalam memimpin Bandung.

Yap sekian uneg-uneg saya yang tidak punya hak untuk memilih minggu besok. Ini BUKAN black campaign karena saya TIDAK memaparkan DATA bohong tentang salah satu calon melainkan saya menyampaikan PENDAPAT saya. Lagipula sebenarnya posisi beliau yang telah memimpin sebelumnya cukup merugi karena bila tiga calon kemarin banyak mengumbar janji saat debat maka satu-satunya calon yang sulit saya percaya dan tentunya terkesan berlebihan yaitu calon pertama ^_^ karena apa yang telah dicapai selama ini tidak menggambarkan janji itu bakal tercapai. Yah lesson learned-nya adalah sebaiknya pemimpin daerah berganti tiap periode atau dengan kata lain cukup sekali menjabat itu adalah keputusan yang bijak.

Datangi TPS-TPS terdekat, 10 Agustus 08, Pilih Pemimpin Bandung dengan Bijak

-postingan ini tidak dihubungkan dengan keramatnya jam 8 tanggal 08-08-08 hari ini apalagi dengan no. 8 hahaha-

Tren akademisi di pilkada dan bukan artis lagi…

Berawal tepat sebulan yang lalu saat belum diputuskan siapa saja kandidat calon Walikota dan wakil Pilkada Bandung, saya chat dengan seorang mantan teman senasib seperjuangan ^_^ tentang pilkada Bandung…

si teman: eh fit,,,request y,,,hit blog mu kan lmyn gede tuh,,,,klo sempet,nulis tentang pilwalkot bandung y…dukung calon dr ITB…untuk bandung yg lebih nyaman,kreatif dan sejahtera…hehehe…
si aku: :))
si aku: pengen sih nulis,, soalnya penasaran ma bapak itu
si aku: sejak dulu tahun tahun pertama slalu dgr pujian dari senior2 ttg pak taufikurrahman
si aku: tapi sy gk pernah ketemu dia loh baik dalam sebuah acara ato seminar
si aku: bingung kan mau nulis apa,, gk ada kenangan sih,, tapi skaligus penasaran knp byk yg muji dia
si aku: kmu tim suksesnya yah ;))
si teman: mmm….boleh deh ga kenal sama orangnya…tp,pengen bandung lebih nyaman,kreatip&sejahtera kan…dan incumbent ud gagal tuh…kini saatnya itb beraksi…hehehe
si teman: masa ga yakin sama calon dr itb…
si teman: aku tim sukses bandung nyaman,kreatif ,sejahtera hehehe….jd objeknya ,,,y perbaikan bdg
si teman: p’taufik aku jg g kenal bgt
si teman: tp,yakin kok…pasangan akademisi dan praktisi yg bersih,muda,komit…

Diawali dari obrolan tersebut, saya memang meniatkan untuk mereview sedikit tentang pilkada Bandung. Sebulan yang lalu ada tiga nama dari ITB yang diprediksi maju di Pilkada Bandung, selain Pak Taufikurahman ada juga Pak Arry Akhmad dari dosen EL (yang ini saya ingat banget karena memberikan pidato ilmiah di sidang terbuka penerimaan mahasiswa baru 2004 ITB), dan seorang lagi adalah profesional dalam bidang tatakota alumnus Teknik Planologi ITB. Yang menarik adalah ketiganya sudah bergelar doktor, walaupun akhirnya hanya satu yang bertahan yaitu benar-benar maju di Pilkada Bandung yaitu Pak Taufikurahman, mantan dosen Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati ITB.

Sebelum saya bercerita tentang calon-calon yang lain, pertama tentunya saya akan bercerita tentang pasangan calon yang diusung oleh PKS ini. Yang unik adalah seperti yang saya bilang di chatting di atas. Saya belum pernah benar-benar mengenal beliau, mungkin bertemu di jalan pernah tapi mendengar beliau berbicara dalam sebuah forum atau acara hampir belum pernah seingat saya (kurang jodoh nih). Tapi dari dulu saya penasaran dengan beliau karena saya banyak mendengar hal yang baik-baik tentang beliau dari mahasiswa ITB baik itu dari mahasiswa yang diajar beliau maupun tidak. Kata orang sih dalam menilai orang lebih sering gunakan telinga daripada mata. Oleh karena itu, saya sempat menyayangkan kenapa dosen Pengling (pengetahuan lingkungan) saat TPB bukan beliau (mungkin saja nilai saya bisa sempurna kalau diajar beliau hahaha). Satu hal yang paling saya ingat dari beliau selama di ITB yaitu saat pemilihan rektor ITB tahun 2005. Pak Taufikurahman merupakan salah satu calon rektor saat itu dan menjadi satu-satunya calon rektor yang saya kenal dekat. Kenal dekat disini maksudnya yang paling sering saya dengar tentang track recordnya yang bagus. Bahkan kalau tidak salah dulu ada pemilu rektor untuk mahasiswa walaupun mungkin tidak diperhatikan suaranya dan yang menang dalam pemilu itu adalah Pak Taufikurahman. Oleh karena itu, saya pikir dulu yang bakal menang beliau, tapi lucunya setelah sidang pemilihan rektor oleh MWA yang muncul adalah nama yang sama sekali saya baru dengar saat itu (maklum masih tergolong mahasiswa muda di ITB). Yah, itulah yang saya ingat sekali tentang Pak Taufikurahman. Kedua, berhubungan dengan pak Taufikurahman adalah asrama PPSDMS. Dulu saat awal-awal masuk asrama, fajrin pernah cerita tentang beliau. Yah lagi-lagi cerita yang baik-baik dan bagiku sih inspirasional. Semakin saya kagum tanpa saya pernah bertemu dengan beliau.. aneh yah… yang menarik juga silahkan baca pengalaman salah satu tim suksesnya

Oleh karena itu sejak tahu beliau diusung menjadi calon walikota saya cukup mengikuti berita beliau khususnya dari webnya. Nah dari web beliau pula akhirnya saya pun tertarik mengikuti perkembangan berita tentang pilkada Bandung padahal saya bukan calon pemilih ūüėČ . Pasangan Trendi ini menurutku cukup menarik karena gabungan antara akademisi dan entrepreneur (penilaian subjektif saya). Kenapa menarik?? saya akan bercerita dengan menggunakan sebuah kasus, kasusnya adalah tentang penanganan sampah di kota Bandung yang heboh sejak tahun 2005. Saat itu kebetulan saya beraktivitas di departemen keprofesian dan teknologi Kabinet KM ITB dan salah satu masalah yang menjadi perhatian yaitu Sampah. Dalam menangani masalah sampah tersebut sempat dibuat suatu kajian dengan dosen Teknik Lingkungan, Biologi, Teknik kimia (lengkaplah). Kesimpulannya adalah sudah banyak solusi yang bisa ditawarkan tapi nyatanya masalah sampah sampai sekarang belum teratasi. Sejak saat itu saya sempat berpikir masalahnya ada di keinginan kuat pemimpin kota Bandung untuk menyelesaikan masalah itu. Solusi yang ditawarkan sudah beragam tapi entah apa yang sudah dilakukan (sekali lagi ini pandangan subjektif seorang masyarakat pendatang di kota Bandung ini ^_^). Nah makanya kenapa saya tertarik bila seorang akademisi memimpin sebuah kota karena bila itu berhasil semoga ke depannya bisa menjadi contoh dan tren bagaimana seorang akademisi menjadi pemimpin masyarakat. Sejujurnya alasan itu yang membuat saya sangat berharap besar akan itu. Artis aja bisa jadi pemimpin masyarakat kenapa akademisi tidak… Terus bagaimana dengan si wakilnya, pendiri Rumah Zakat Indonesia? sekilas saya membaca informasi tentang beliau saya melihat beliau adalah seorang entrepreneur yang cukup berhasil. Kebetulan juga, karena keberhasilan Fadel Muhammad memimpin Gorontalo dengan menggunakan keterampilannya menjalankan bisnis membuat saya berpikiran ide yang baik bila seorang pemimpin daerah adalah seorang entrepreneur juga daripada seorang politikus.

Yah tidak adil memang bila tidak menceritakan calon yang lain karena sebenarnya saya juga punya pendapat mengenai calon yang lain. Kita mulai dari calon yang sudah terkenal yaitu Dada-Ayi. Nah yang cukup unik adalah tentang Dada Rosada, saya hanya sekali bertemu beliau saat sidang terbuka masuk ITB dan selama 4 tahun saya di Bandung anehnya saya merasa tidak mengenal sang walikota Bandung ini. Maksudnya tidak kenal adalah karena jarang mendapat cerita apa-apa tentang beliau. Mungkin karena kalau di ITB kita terbiasa mendengar dan didatangi oleh tokoh-tokoh nasional daripada tokoh Bandung (huekss). Tapi memang benar seperti itu, bahkan mungkin dulu saya tidak ingat dan tidak mengenali muka walikota Bandung ini. Jadi kesimpulannya, beliau sama sekali tidak dengan dengan mahasiswa dan mungkin kampus ITB (lagi-lagi ini komentar subjektif saya sendiri). Oleh karena itu, secara tegas saat tahu beliau mencalonkan lagi menjadi walikota terang-terangan saya pastinya tidak respek. Empat tahun saya tinggal di Bandung dan sama sekali tidak merasakan sesuatu yang spesial sehingga saya tidak menyadari keberadaannya sebagai seorang walikota. Hal itu cukup menjadi penilaian saya tentang bagaimana kinerja beliau tanpa memperhatikan usaha saya untuk mengenal beliau juga sebenarnya tidak ada. Wajari kalau saya terlalu subjektif karena untungnya saya menulis di blog saya sendiri ^_^.
Tentang wakil beliau yaitu Ayi, huff ini juga lebih parah, bahkan browsing tentang beliau pun cuma dapat sedikit informasi. Kesimpulannya beliau tidak gaul di dunia maya. Justru informasi tentang beliau, yang saya peroleh dari om google, paling sedikit bila dibandingkan dengan yang lain. Cuma satu yang unik adalah nama beliau ‘Ayi’ meyakinkan saya kenapa dulu waktu kecil ada orang yang bilang nama panggilan saya (ai) kaya nama orang sunda.. ^_^.

Oke, sampailah kepada calon ketiga yaitu calon yang paling menarik dari ketiganya yaitu Hudaya-Nahadi karena mereka adalah pasangan calon independen. Mantep gak tuh, bayangkan yah kalau mereka bisa menang di Bandung, wah bakal menjadi pendorong calon independen di daerah-daerah lain untuk maju, apalagi kalau bisa calon presiden sekalian aja calon independen (eh, bisa gak yah?? kayaknya sih gak ada di UU Pemilu). Yah, yang unik juga dari calon independen ini yaitu calon walikotanya adalah juga kader PKS yang dulu mau dimajukan tapi akhirnya menggunakan kendaraan selain parpol yaitu jalur independen. Alasan dan penyebabnya sebaiknya ditanyakan sendiri kepada para kader PKS ^_^. Pasangan walikota yaitu Nahadi juga ternyata seorang akademisi, dosen kimia dari UPI kalau tidak salah. Wah menarik juga nih Pilkada Bandung karena calon-calonnya adalah akademisi bukan arteiiiis… hahaha

Kesimpulannya Pilkada Bandung bagi saya adalah pertarungan penokohan antara calon dan bukan lagi partai… Siapa yang paling bisa merebut hati pemilih kota Bandung maka beliaulah yang akan memimpin kota Bandung.

Tips dari saya buat yang mau menjadi pemilih (padahal seumur-umur saya baru pernah nyoblos ketua OSIS, ketua himpunan, maupun presiden KM doank hehehe) yaitu Sedikit mengingatkan buat yang sependapat dengan saya yaitu memilih pemimpin adalah dengan menilai visi-misi nya yang mana yang paling dibutuhkan oleh kota Bandung. Tapi kan yang namanya visi misi bisa dibuat-buat dan sering tidak ditepati. Nah makanya kita juga menilai track record calon pemimpin kita selama ini, sejauh mana usaha beliau merealisasikan mimpi-mimpinya.

Terakhir, kita tidak mungkin menemukan seorang pemimpin yang sempurna tapi bukan menjadi alasan akhirnya kita tidak berani/mau memilih karena mungkin yang membuat sang pemimpin sempurna adalah karena dukungan kita

Fiuh serius amat yak, eniwei akhirnya saya ngeposting lagi tentang pilkada setelah dulu pernah iseng ngomentarin pilkada sulsel sekarang waktunya saya iseng cerita tentang pilkada Bandung, kota yang sudah saya tinggali selama 4 tahun-pas banget. Pertanyaannya adalah kapan saya punya kesempatan berpartisipasi aktif dalam ajang demokrasi Indonesia hehehe baik PEMILU presiden atau Pilkada saya sama sekali belum pernah merasakan??

KM ITB milik semua

Pagi ini saya terbangun dengan 4 pesan baru yang masuk di ponselku. Pesan terbaru dari ayahku, kemudian dari Ilham, Sandi, dan juga Fikri (teman SMA). Ketiga pengirim terakhir sama melaporkan hasil Perhitungan Suara PEMILU RAYA KM ITB 2008 dengan bahasa yang berbeda-beda. Perhitungan Pemilu Raya KM ITB 2008 yang berlangsung di basement CC barat pada jam 19.30 hingga 02.00 ini telah menghasilkan nama pemimpin-pemimpin kita yang baru yaitu Bagus T. Planonologi 2004 (MWA Wakil Mahasiswa) dan Shana Fatina T. Industri 2004 (Ketua Kabinet KM ITB). Pasangan Bagusshana (2182) unggul 28 suara dari pasangan bobbygilang (2154) sedangkan Rulyfikri hanya memperoleh 230 suara. Hasil yang kalau secara random ditanyakan kepada mahasiswa ITB rata-rata tidak memprediksi seperti itu.

Hal¬†yang lucu waktu menerima hasil ini tadi pagi, tiba-tiba saya jadi ingat waktu mendampingi panpel saat roadshow aturan PEMILU di salah satu zona himpunan, ada pertanyaan mengenai galat yang nyambung ke sebuah studi kasus mengatakan bagaimana nanti kalau selisih suara antara 2 calon itu sampai 20 atau¬†30 (misalnya sama dengan total galat) kan lumayan. Trus dalam hati dan sempat nyeletuk ke salah seorang senator, “ah itu mah studi kasus yang hampir sulit terjadi, diada2in contohnya…” Jleb, tidak¬†enak tiba-tiba waktu mengingat kata-kataku dulu hehehe. Tidak terpikir¬†bisa kejadian. Yah tapi inilah ketentuan Yang Maha Menentukan.

Pencoblosan suara yang hanya berlangsung dalam waktu 5 hari dengan segala keterbatasan bisa menghasilkan partisipasi mahasiswa ITB di pemilu KM meningkat tinggi dari yang tahun lalu 41% menjadi sekitar 4600 (50.8%) dari total pemilih sekitar 9000. Jadi ingat saat mendampingi ketua PEMIRA waktu itu berbicara dengan seorang Bapak di Biro Kemahasiswaan yang menyoroti partisipasi Pemilihan Presiden yang sangat rendah. Entah kenapa angka 50% walaupun belum membanggakan sekali tapi bisa mengobati sedikit kekesalan saat itu. Segala apresiasi ingin saya berikan atas usaha panpel dengan segala keterbatasannya yang cukup kasihan juga tapi bisa menghasilkan angka di atas. Usaha panpel sejak awal yang ingin memudahkan semua jurusan agar dapat mencoblos tapi dukungan dari massa kampus yang tidak sebanding. Tahun ini TPS yang dibuka lebih banyak daripada tahun lalu padahal hal itu berbanding terbalik dengan resource yang mereka miliki. Akhirnya saya kebagian jatah 3 hari terakhir buat buka TPS di zona IF. Bahkan hari terakhir karena permintaan saya juga sih, all day long, saya jadi penjaga kotak di zona IF dan menghasilkan 135 pemilih (beginilah fakta kalau mahasiswa deadliner jadi pemilih).

Terlepas dari keterbatasan panpel dalam melaksanakan PEMILU KM ITB, saya merasa¬†tidak suka¬†atas issue yang dihembuskan oleh siapapun itu atas ketidaknetralan panpel dan semacamnya. Secara kepanitiaan saya yakin panpel cukup netral. Tapi secara personal tidak mungkin panpel netral karena tentunya mereka juga menggunakan hak pilihnya.¬†Ketika keputusan yang dihasilkan sesuai dengan mekanisme panpel dan aturan PEMILU dari kongres maka sudah sepantasnya kita nilai secara objektif panpel netral¬†bukan malah¬†penilaian terhadap panpel dihubungkan dengan melihat orang-orang yang bekerja sebagai panpel (lagi-lagi sosok). Justru yang lucu adalah ketika sebuah keputusan panpel yang di awal sudah diterima semua calon tapi masih dipermasalahkan oleh pihak lain setelah beberapa jam/hari keputusan itu dikeluarkan yang secara aturan Panpel harusnya sudah tidak bisa diganggu gugat. Saya merasa tidak fair selama pencoblosan (saat-saat panpel harusnya butuh dukungan)¬†ada frame di massa kampus panpel tidak netral padahal saya menilai ini hanya masalah komunikasi panpel ke massa kampus yang tidak hanya tapi hanya ke calon. Dan masalah komunikasi itu berangkat dari keterbatasan panpel coba bayangkan kalau isi panpel semua elemen di ITB. Saya rasa massa kampus bisa melihat persoalan dengan bijak dan mungkin lebih bijak dari saya. Yah bagi saya panpel harusnya diberikan apresiasi sebesar-besarnya seperti yang saya katakan disini . Kalau perlu permohonan maaf begitu dari pihak-pihak yang mencemarkan nama baik panpel ūüėČ gimana Kongres (wahahaha seenaknya gini, post power sindrome)

Terlepas dari masalah panpel, saya berharap banyak atas terpilihnya BagusShana agar¬†dapat mewujudkan mimpi besar mahasiswa ITB¬†agar “KM ITB milik semua”. Terlepas darimana¬†saja latar belakang, golongan, elemen yang ada di kampus ini, semua harus mewarnai KM ITB ini. Selamat bertugas buat Ibu Shana dan Bagus ūüėČ . Mari himpun beragam potensi mahasiswa ITB agar KM ITB dapat kokoh dan berkarakter dan ciptakan budaya trust, share, and care di kampus ini agar bisa menjadikan KM ITB milik semua, milik semua tidak hanya mahasiswa ITB tapi stakeholder ITB dan bangsa ini.

Related links:

Tari poco-poco digunakan pada ajang kampanye di Amerika Serikat

Kampanye,, dan kampanye,,,
Kampanye apa coba maksudnya?
Terinspirasi dari suatu topik di suatu acara berita sore di salah satu stasiun TV swasta R**I di negeri ini, yah tumben-tumbenan saya bisa nonton berita sore.
Salah satu berita sore ini berjudul “mungkinkah tari poco-poco digunakan pada ajang kampanye di Amerika Serikat“. Menarik bukan judulnya?
Kalau yang Anda bayangkan bahwa kampanye Barack Obama menggunakan tari poco-poco secara beliau memiliki latar belakang khusus dengan negara ini berarti sama seperti asumsi yang sempat kupikirkan.
Namun ketika akhirnya berita tersebut disampaikan asumsi saya terpatahkan…
Berita tersebut ternyata bukan menyoroti tentang kampanye yang sedang berjalan di Amerika Serikat sekarang apalagi yang sedang heboh yaitu perebutan kursi capres dari partai Demokrat antara Obama dan Hillary.

Berita ini menyoroti bagaimana metode kampanye ada di Indonesia khususnya yang dulu digunakan oleh mantan-mantan capres Pemilu Indonesia 2004. Diperlihatkan rekaman kampanye dari Bu M**a yang berkampanye sekaligus beryel-yel, kemudian Pak W*****o yang berkampanye sekaligus nyanyi dan joget dangdut serta tentunya presiden kita sekarang yang dulu berkampanye sekaligus nari poco-poco..
Beritanya tidak hanya sampai disitu…
Setelah mereview metode-metode kampanye yang ada di Indonesia kemudian dibandingkan dengan nuansa kampanye di Amerika Serikat yaitu ketika Barack Obama berpidato saat super tuesday. Bagaimana isi pidatonya cukup berbobot dan bersahaja *alah bahasanya* tapi setidaknya cukup kebanting juga dengan metode kampanye yang sang calon joget sambil nyanyi dangdut *plus ada penyanyi dangdut wanita tentunya @ @*
Akhirnya berita ini pun menyampaikan bagaimana perbedaan metode kampanye di Indonesia yang menonjolkan Figur dari calon sehingga terkadang pemilih Indonesia tidak begitu mengetahui visi yang dibawa oleh calon. Hal tersebut berbanding terbalik dengan kampanye di Amerika yang menekankan pada konten yang dibawa oleh sang calon *ini kata berita loh*.

Banyak yang bilang bahwa kecenderungan masyarakat Indonesia tuh memilih orang melalui figurnya. Pertanyaannya bisa dikembalikan kepada calon, bagaimana caranya masyarakat tidak memilih seseorang berdasarkan figurnya kalau kampanye adalah ajang tim sukses untuk menjual ‘sosok‘ sang calon bukannya pemikirannya. Contoh yang namanya menjual yah misalnya ada seorang calon pemimpin yang digambarkan sebagai orang yang dekat dengan masyarakat terus berasal dari suku tertentu (khususnya untuk pilkada). Padahal sebenarnya hal tersebut lebih terbukti bila kita menelusuri track recordnya terdahulu benar tidak dekat dengan semua masyarakat.
Jadi bagaimana sebaiknya seseorang mengkampanyekan dirinya yaitu dengan menonjolkan pada cita-cita/visi/tujuan yang dia bawa dan tidak perlu capek-capek mengkampanyekan diri calon bahwa calon bisa bernyanyi, bisa berjoget, dll.
Seperti peribahasa tidak ada asap apabila tidak ada api *nyambung gk yah*, jadi pemilih pun harus pintar untuk tidak tertipu dengan metode kampanye yang tidak cerdas tersebut *malah cenderung boros biasanya*. Untuk mengenali personal seorang calon harusnya bisa ditelusuri dari track record pekerjaan atau pengalaman calon sebelumnya. Dia bersih ataupun kompeten yah dapat kita nilai dari track record hasil kerjanya terdahulu. Dengan demikian, kampanye yang dilakukan pun tinggal memfokuskan bagaimana si calon menyampaikan cita-cita/visi misinya supaya ketika dia terpilih pun masyarakat sudah mengerti tujuan dari calon tersebut. Akhirnya kampanye bukan menjadi ajang menghambur-hamburkan uang belaka *ujung-ujungnya duit ūüėČ *
Konsekuensinya berarti pemilih yang cerdas harus kritis dan aktif mengenali sang calon bukan hanya dari sebuah media kampanye yang biasa hanya berupa kedok belaka.

Wuah, saya sebagai penonton berita sangat antusias menonton berita seperti ini, yah sekali-kali perlu juga diingatkan masyarakat hal beginian, akhirnya ada juga berita yang ‘adil’. Setelah nonton berita itu saya jadi menarik kembali pandangan saya yang sempat tidak percaya dengan acara berita Indonesia yang kadang-kadang tidak netral dan terkontaminasi acara infotainment *hahaha tanya kenapa?*.
Sayang seribu sayang beberapa saat kemudian ketika saya mengganti dengan saluran TV lain yang ada acara berita sore juga, tau gak apa beritanya, ternyata tentang hari valentine wuahaha,, kurang informatif, coba bayangkan untuk acara berita resmi dengan isi berita sehubungan dengan apa itu valentine.
mmm Jadi pengen tahu bagaimana menjadi seorang penonton yang cerdas bisa kritis menyaring informasi yang diterima…